ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI
oleh Jalaluddin Rakhmat
Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling
sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan
Ibnu'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah
di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga
karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan)
asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh.
Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya.
Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah
meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman:
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku
tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29)
Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas
atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya.
Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan
dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam
dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya.
Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan
para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh),
jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung
(al-qalb).
RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS)
Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad.
Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan
jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam
ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli
sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi
dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan
kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci.
Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah
ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di
dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik
dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan
terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber
akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi
jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani
(binatang) dan jiwa insani.
Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang
organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa
hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan
melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang
kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai
kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah).
Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau
al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi,
yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan
hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang
khusus, Dzatnya dan Penciptaannya.
Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani
(berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa
(nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat
yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia
mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.
Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan
memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu
sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang
menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang
demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53)
Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat
tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela
manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai
berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku
bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2).
Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat
yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs
al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi
diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30)
Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah
menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah
melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang
telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman,
yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah
dijamin Allah langsung masuk surga.
Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan
ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan
terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci.
Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah
sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah
mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8).
Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena
itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.
AKAL
Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau
intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir
yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa
(nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di
kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di
dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber
pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf
mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan
pengetahuan hati (rasa).
Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan
tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-- ia dapat
mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang
demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan
(sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu
berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang
demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka).
Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal
kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan
hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena
kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada
kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh
kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke
tingkat akal perolehan.
HATI SUKMA (QALB)
Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb.
Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung,
bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita
memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah
segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di
dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek
kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran
yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang,
bahkan bangkainya.
Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang
halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang
ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang
disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah
berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan
memahaminya." (QS. 7:1-79).
Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara,
bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu
jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda
pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para
filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan
akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama
merupakan daya berpikir.
Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah
atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal
yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih
dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral
dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela
dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa,
wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah)
yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat
menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai
pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah
moralitas.
Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji
adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti
ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar
hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja,
sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya
kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari
penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya
berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani
--hati yang kotor.
Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh
hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah
yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah
orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9).
Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah
pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika
cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh.
Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari
tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani
bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari
Allah Swt.
Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada
dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya,
ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap
dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan
dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya,
dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki
Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari
hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi
lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi.
Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan
nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu
menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan
manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani
dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy,
Kairo, 1983.
Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin
al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983.
Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906.
Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H.
------, Ma'arij al-Quds fi Madarij Ma'rifah al-Nafs, Kairo,
1327 H.
------, Asnan al-Qur'an fi Ihya 'Ulum al-Din, Kairo.
Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang,
Jakarta, 1978.
Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949.
Rabu, 14 Januari 2009
Pencerahan
Fatwa Rahbar
Tuesday, 13 January 2009
Sample ImageRahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam jawaban beliau atas permintaan fatwa (istifta) soal impor produk-produk Rezim Zionis Israel dan pengiklanannya menjawab, "Wajib meninggalkan segala bentuk transaksi yang menguntungkan rezim penjajah Israel". Beliau menjelaskan, "impor dan iklan produk-produk Rezim Zionis Israel tidak diperbolehkan kepada setiap muslim karena bahayanya kepada Islam dan umat Islam".
Sayyid Ali Khamenei juga menegaskan agar umat Islam tidak mengimpor produk-produk yang produksi dan penjualannya menguntungkan Zionis Israel dan menambahkan, "Setiap muslim wajib tidak membeli dan memanfaatkan produk-produk yang manfaatnya kembali pada Zionis Israel".
Begitu juga mengenai travel-travel di negara-negara Islam yang punya program tour ke Rezim Zionis Israel, Rahbar mengharamkannya karena bahayanya terhadap Islam dan umat Islam. Sayyid Ali Khamenei mengharamkan setiap muslim yang melakukan perbuatan melanggar boikot umat Islam terhadap Zionis Israel.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran mengharamkan pembelian produk-produk dari perusahaan-perusahaan Yahudi, Amerika atau Kanada bila itu menyebabkan semakin kuatnya Zionis Israel atau akan dimanfaatkan untuk memusuhi Islam dan umat Islam.
Sekaitan dengan jual beli produk-produk Amerika dan seluruh negara-negara Barat Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menjelaskan, "Bila pembelian produk-produk impor dari negara-negara bukan Islam dan memanfaatkannya berakibat pada semakin kuatnya negara-negara kolonialisme, para musuh Islam dan atau memperkuat kekuatan finansial mereka untuk menyerang daerah-daerah Islam atau muslimin di seluruh dunia, wajib hukumnya bagi umat Islam untuk tidak membeli dan memanfaatkannya. Hukum ini tidak khusus bagi rakyat Iran yang muslim".
Selasa, 13 Januari 2009
khalqun jadiidun
Yaa Khaaliqal-Hayyi
khalqun jadiidun[1]
Ia, -wujud an sich-, adalah Ia yang senantiasa Ia. Sendiri, Munfarid, dalam Bahari Ke-Tunggal-an (baca pula; keUnikan) Benderang Tiada Tara. Realitas semua hal, - baik dalam kesegalaannya maupun dalam individuasinya -, adalah Ia Sendiri, - wujud murni Yang Tunggal Tiada Banding.
Karena itu, ‘ashalah al-wujud dan ketunggalan wujud meniscayakan; tak ada satu hal apa-pun yang identik dengan hal lain. Laisa kamitslihi syai`un. Tak ada satu apa-pun yang sama dengan-Nya, - realitas segala sesuatu. Karena itu, Ia terus menerus mencipta (baca; memanifestasikan Diri) hal-hal yang baru.
Guru kita YM Al-Hajj Mulla Hadi Sabzavary (q.s.) mengatakan[2]
Kembalinya apa yang sudah pernah meng-ada sebagaimana ia pernah meng-ada adalah suatu kemustahilan. Tidak ada pengulangan dalam manifestasi diri-Nya. Pada setiap saat Ia ada dalam keadaan yang baru, tiap keadaan “tak ada bandingannya / tak ada taranya”[3] Dan “ dalam segala sesuatu Ia mempunyai tanda yang menunjukkan bahwa Ia Tunggal. “
Maka tiada apa-pun yang maujud, melainkan ia hidup dan dialiri oleh gelora Asma mulia al-khaaliqul-hayyu, Pencipta Yang Maha Hidup. Kehidupan (baca pula; Al-Hayyu) memberikan gelombang ‘isyq (baca pula; Cinta Ilahi) sehingga terjadi perubahan terus menerus eksistensiasi Nama-Nama Tuhan. Maka watak-watak sesuatu yang hidup, seperti berbicara, mendengar dan melihat, dimiliki oleh segala sesuatu yang maujud.
Batu-batu kerikil yang diam seribu bahasa, ternyata mendzikrkan Asma-Asma Allah ketika berada di tangan Baginda Rasulullah (S.A.W.)[4] Demikian pula kayu pepohonan yang biasa digunakan Baginda Rasulullah (S.A.W.) untuk berkhutbah merintih-rintih saat Beliau berkhotbah di tempat khotbah yang baru. Bagi al-faqir, - yang senantiasa tenggelam dalam kebodohan ini-, sifat-sifat kehidupan pada batu maupun pada kayu pepohonan tersebut muncul karena gelora ‘isyq tangan mulia pemilik Asma Ar-Ro`uuf Ar-Rohiim, Muhammad (S.A.W).
Al-khaaliqul-hayyu menciptakan makhluqun hayyun, yang hidup, yang senantiasa berubah-ubah. Ia selalu menciptakan yang baru pada segala. Maka, segala hal setiap saat senantiasa dalam keadaan membaharu[5]. Perhatikan rintihan penyair berikut;
nanar tatapMu membuat-ku kepayang
sejuk mistik-kedalamannya membuat hidup-ku membaharu
akulah kapal, Kau-lah Sang Nahkoda
arungkan aku ke dalam bahari sMara-Mu, bahari sMara-Mu
Nanar tatap-Mu, yaitu Sorot Cahaya Wujud, membuat aku, yaitu salah satu nama-Nya, kepayang, tak sadarkan diri akan identitas diriku. Kenapa?
Karena, sejuk mistik-kedalamannya, yaitu kesejukkan Samudera Ilmu Tuhan yang biasa disebut sebagai Sumber Mata Air Kecemerlangan, membuat hidupku membaharu, yaitu membuat aku menjadi Asma-Asma-Nya Yang Lain.
Maka sungguh, aku-lah kapal, lokus-lokus a’yaanuts-tsaabit yang tiada lain adalah mitsal atau arche, dan Kau-lah sang Nahkoda, penentu Asma-Asma - Mu sendiri yang hendak Kau wujud - kan dalam bayangan (baca pula; mitsal) - ku.
Maka doaku, arungkan aku, berilah aku seluas-luas rahmat, yaitu, ke dalam bahari sMara-Mu, bahari sMara-Mu, yakni jadikan aku gelora asma-Mu Yang Penuh Cinta, al-Waduudur-Rahmaanir-Rahiim, duhai Al-Jamiil.
Yaa Allah, Yaa Khaaliqul-Hayyu, yang senantiasa mencipta lagi hidup. Yaa Allah, Yaa Khaaliqul-Hayyu, yang senantiasa membuat semua menjadi baru. Buatlah diri - ku, - yang faqir lagi hina-dina ini - , senantiasa membaharu, dengan Air Kehidupan - Mu, yang memabokkan. Layangkanlah aku, -bebayangan semu yang bahkan tak punya nama ini-, dalam sejuk hawa Nama-Nama - Mu Yang Maha Cantik, duhai Al-Waduudur-Rahmaanir-Rahiim. Dengan keberkahan Muhammad dan keluarganya yang suci.
walloohu a’lam bish-showwab
[1] Persembahanku untuk Guruku (tct) yang kurindu, Sayyid Musa Al-Kazhim Al-Habsyi, cucu Sayyidah Fathimah (‘a.s.) yang mulia.
[2] Saduran dari, Sabzavary, “Syarhe Manzhumehe Hikmat” (English Translation), Bagian Pertama, Mutiara ke -XIV, mengenai Kemustahilan Kembalinya Hal Yang Telah Meng-ada, hal. 80.
[3] Sebagai kiasan dari, Kullu yaumin huwa fii sya`nin (QS 55;29).
[4] Yang termaktub dalam sebuah riwayat. Merupakan salah satu mukzizat Rasulullah (S.A.A.W.). Baca pula kitab, 36 Mukzizat Rasulullah, karya H. Salim Bahreisy.
[5] Bal hum fi labsin min khalqin jadiidin (QS 50:15).
Dia-lah Yang Zhahir dan Bathin
Yaa man huwa fii kulli makaan,
wa yaa man huwa fii kulli zaman;
Dia-lah Yang Zhahir dan Bathin
Maha Suci Ia Yang Maha Tinggi, yang tarabir fikiranlah yang membuat Zat-Nya Yang Segemilang Mentari, an-Nuur al-Jamiil, tak nampak semerona pipi Layla bagi Qays Majnun di dalam Penglihatan, Pendengaran, Perasaan dan Kesadaran. Sungguh, Engkau, Yaa Huwa, adalah Cahaya Langit dan Bumi, yang tiada dapat disifati apa-pun melainkan Kau jua-lah makna hakikatnya, yang bahkan sifat itu sendiri tiada lain adalah Zat-Mu, dan seluruh yang tampak dan menampakkan tiada lain adalah Zat-Mu. Maka, Kau-lah Yaa Huwa, Yang Tampak di segala ruang dan waktu. Dan Kau jua-lah yang menampakkan di segala ruang dan waktu. Maka, Kau-lah Yaa Huwa, Yang Zhahir di segala ruang dan waktu. Yaa man huwa fii kulli makaan, wa yaa man huwa fii kulli zaman. Duhai Ia yang ada di segala tempat, dan duhai Ia yang ada di segala waktu.
Ketika melihat dua buah tasbih, sudah “terdapat” dua tasbih. Maka, betapa mungkin kejamakan adalah suatu yang nisbi? Demikianlah suatu pertanyaan. Ketika melihat dua tasbih, sungguh “terdapat” dua tasbih di dalam fikiran, sebagai hasil pengamatan. Sedang apakah benar-benar terdapat dua realitas yang ada di alam eksternal? Ketahuilah, sungguh wujud “kedua tasbih yang tampak” tersebut tunggal. Dan karena realitasnya adalah wujud-nya maka, realitasnyapun tunggal. Ketunggalannya demikan keras mencengkeram diri-Nya sendiri sehingga Ia disebut pula sebagai Al-Qobiidhu. Dan Ketunggalannya tak pernah terkotori sedikitpun oleh “kejamakan” karena telah dibuktikan penjumlahan hakiki tak punya realitas eksternal. Maka Ia disebut pula sebagai Al- Mutafarridu.
Huwiyyah Zat-Mu Yang Maha Zhahir adalah rahasia wujud-Mu yang abadi. Tak ada Satu Pengamat-pun yang mampu Mengamati KetakterbatasanMu Yang Maha Kudus, duhai Al-Qudduus. Maka Sungguh Tiada Yang mampu mengamati Kesempurnaan-Mu Yang Maha Kudus, Wahai Bathin dari segala jauhar, a’raad dan a’yaan. Maka, Engkau-lah Huwa azh-Zhoohiru wa al-Baathinu. Pemisahan komputer, keyboard, tasbih, meja, atap, dan segala yang “tampak”, sehingga seolah terdapat mahajamak atau mahabanyak “sesuatu” di alam ini hanyalah bersumber dari pembatasan Diri-Nya dalam pengetahuan-Nya tentang diri-Nya. “Segala” hal yang “ada” hanyalah Ia Yang Sedang Menunjuk/Mengamati/Menyadari/Memuji/Membuktikan Keberadaan-Nya Sendiri dalam keterbatasan Penunjuk / Pengamat / Penyadar/ Pemuji /Pembukti dan Yang Ditunjuk/Yang Diamati/Yang Disadari/Yang Dipuji/ Yang Dibuktikan. Seorang penyair berkata, Ia arungi Samudra Keberadaan-Nya Sendiri dengan sampan-sampan bertuliskan safiinatun-najah.
Fii kulli syai`in fa kullu syai`in. Dalam semua benda, semua benda. (Ana al-Haqq, Ibrahim Gazur-i Ilahi, terjemahan, Rajawali Press, 1986, hal. 52). Demikian kata Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Realitas semua benda terdapat dalambenda-benda yang lain. Sehingga kata seorang penyair,
jika kau belah setetes air, ribuan samudra terdapat di sana,
jika kau layari ribuan samudra, tiada beda dengan sekolam saja,
gelora taufan badai dan samudera adalah gemulai tarian tetes air,
dingin dan senyap menyelam di kolam adalah hening samudra raya
orang mengatakan air disimpan dalam kendi
betapa mungkin air disimpan dalam kendi, jika di dalam air tak ada kendi ?
orang mengatakan aku cinta padamu Zakiyyah
batapa mungkin berkata aku cinta Zakiyyah, bila bibir merahnya tak ada dalam diri?
seekor ikan yang ditangkap nelayankhidiri bak segenap ikan dalam samudra
sekeping uang yang dibawa Salmanfarisi bak kegemilangan tahta Sulaiman
sandal Ali yang dijahitnya sendiri adalah luka-luka seluruh kaki pejalan yang terseok
Fathimah kegemilangan kesucian Sang MahaWanita adalah diri Rasul sendiri, diri Rasul sendiri
maka orang arif tak mencari jaring raksasa dan kapal nelayan maha-raksasa
ia cukupkan dirinya dengan setusukan duri dan daging ikan, yang dibakar
di dalamnya ia dapatkan gurih segala ikan dan manis semua bidadari
yang menari-nari menyanyikan Yaa Syakuur, Yaa Jamiil, Yaa Mahanikmat
wa-allahu a’lam bi ash-showab
Ketiadaan Keburukan
Ketiadaan Keburukan
Wujud murni tiada berbatas adalah hakikat segala. Dan sungguh wujud itu sempurna. Bebas dari semua kekurangan. Dan bahkan wujud adalah kesempurnaan itu sendiri. Sedang segala sesuatu selain wujud secara essensial adalah cacat dan kurang. Secara essensial mereka itu faqir. Tapi karena segala sesuatu selain wuj ud hanyalah ada sebagai mahiyyah dalam imajinasi, maka Terpujilah Tuhan Yang Maha Kaya dari segala kekurangan. Terpujilah Realitas dari segala hal. Hanya Ia-lah Yang Ada dan tiada selain Ia. Maka dalam pandangan orang-orang yang dikaruniai bashiiroh, dzauq dan kasyf al-wujuud, keburukan tidak mempunyai keberadaan dalam segenap alam ini. Yang ada hanyalah Kebaikan.
Karena itu, para wali Allah mesti - lah mencapai tingkatan, “Alaa inna auliyaa `alloohi laa khoufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun.[1]” “ Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Karena apa yang perlu dikhawatirkan lagi, sedang Segela adalah Kebaikan, dan tidak ada keburukan. Sakit dan nikmat, hanyalah menunjukkan Lautan Kenikmatan yang tak mungkin pernah dapat dirasakan sempurna oleh makhluk. Baik dan buruk, hanyalah menunjukkan Lautan Kebenaran yang tak mungkin pernah diarungi oleh makhluk, bahkan tak ada batasnya. Senang dan sedih, hanyalah menunjukkan Samudera Kebahagiaan yang dirahmatkan oleh wujud murni kepada makhluknya yang tak mungkin menampung keseluruhannya.
Wujud murni tiada berbatas, tak punya lawan. Salahlah orang yang membayangkan setan dan iblis sebagai lawan Tuhan. Bahkan setan dan iblis, - yang kadang diyakini sebagai sumber keburukan dan kejahatan-, tak memiliki wujud yang mandiri. Tuhan, wujud mutlak tanpa batas, tak bisa dibandingkan dengan apa pun , juga ia tak ada sesuatu apa pun yang dapat di-”lawan”-kan dengan-Nya dari semua sudut pandang. Maha Suci Ia dari semua apa yang mereka sifatkan.
Maka derita dan kesedihan bukanlah keburukan, namun justru merupakan segi - segi cerlang Kesempurnaan penciptaan. Sakit dan derita wujud sama sekali bukan merupakan kekurangan, namun adalah keniscayaan Kesempurnaannya sendiri. Demikian, ketika seorang pencari Tuhan mencapai penyingkapan hakikat wujud tertentu, ia akan terlarut dalam Samudera Cinta pada Tuhan yang dipenuhi dengan onak dan duri. Onak dan duri yang amat menyakitkan dan memerihkan. Adalah onak rindu kepada Tuhan sebagai wujud tunggal, dan duri - duri hasrat untuk melihat Dia, Huwa yang merupakan hakikat wujud mutlak yang tak akan pernah terjangkau. Yaa Huwa, yaa man laa ya’lamu man Huwa, wala aina Huwa, walaa kaifa Huwa, walaa haitsu Huwa illa Huwa. Wahai Dia, wahai yang tak mengetahui Siapakah Dia, di manakah Dia, bagaimanakah Dia, sedang dalam keadaan bagaimanakah Dia kecuali Dia.
Seseorang yang mencapai tauhid terendah, - yaitu tauhid af’al-, tidak akan pernah mengeluhkan keadaan apa pun dalam kehidupan ini. Karena mereka melihat bahwa pe-laku ( baca : pe-wujud) dari semua yang ada hanyalah Ia Yang Maha Tunggal. Dan tak ada serikat bagi - Nya dalam perbuatan (baca : pe-wujud)-Nya. Dan bahkan dalam pandangan para ‘arif yang telah mencapai tauhid dzat, tak ada keburukan apa pun dan tak ada kekurangan apa pun yang memasuki alam (baca : Samudera Wujud) ini. Maka mereka semua akan selalu ridho terhadap semua yang terjadi dalam realitas ini. Allah ridho pada mereka, dan mereka - pun ridho pada - Nya. [2]
Maka adalah sebuah ciri orang yang telah mencapai tauhid; adalah senantiasa ridho dan wajahnya membekaskan lautan kenikmatan. Tidak terlalu gembira dengan apa yang menyenangkannya, tak pula terlalu sedih dari apa yang luput. Wujuuhun yauma`idzin naa’imah. Lisa’yihaa roodhiyah. Wajah - wajah yang selalu dipenuhi dengan syukur nikmat. Sebagaimana Nabi Ayyub (a.s.) tetap bersyukur kepada Allah setelah tujuh tahun dihinggapi derita kusta yang amat payah. Dan mungkin sebuah ciri lain adalah tak pernah terburu - buru atau mengejar sesuatu yang menjadi hasratnya. Bukankah Imam ‘Ali (a.s.) telah berkata dalam doa Kumail; waf ‘ al bimaa anta ahluh (lakukan apa yang Engkau adalah ahlinya). Atau meminjam perkataan Maulana Rumi; aku - lah ikan , Engkau - lah Lautan, genggamlah aku sebagaimana yang Engkau sukai. Sungguh, Cinta kepada Allah, akan melenyapkan seluruh keburukan dan menggantinya dengan Kebaikan. Dan Cinta kepada Allah akan melenyapkan seluruh dualisme - dualisme lain yang menjadi akar dari seluruh kesyirikan di dunia. Maulana Rumi berkata; Cinta kepada Allah melenyapkan semua kesulitan, seperti matahari di siang hari melenyapkan semua bayangan.
Apa pun adalah kebaikan. Apa pun, kebaikan adanya. Apa pun, adalah wujud Kebaikan dan Kesempurnaan Tuhan Yang Maha Semarak.
demikian tak ada baik tak ada buruk
yang ada hanyalah Ia sendiri
tak ada nikmat tak pula duka
yang ada hanyalah Sepi sendiri
tak pula tangis tak pula tawa
Bahagia dalam Perih Ceruknya Rindu
tak pula sedih tak pula girang
Ia Gemilang dalam Cahaya-Nya sendiri
maka demikianlah, tidaklah Ia puji
melainkan Muhammad sendiri
dan tak patut Ia puji
selain Muhammad sendiri
sehingga dilelautan dan gegunungan
yang ada hanyalah Muhammad sendiri
di awan pun , di langit pun, di ‘Arsyi pun
Gemilang Terang Muhammad sendiri
tak kan berkilau intan tanpa gosokan
Tak kan Bercahaya Muhammad tanpa derita
maka benarlah Rasul yang mengatakan,
“Tak seorang nabi pun yang menderita seperti apa yang kuderita”
bukankah Imam Shadiq(a..s.) mengatakan,
“Dan orang yang lemah imannya dan lemah akalnya lemah pula cobaannya.”
Maka kini kukatakan
dengan hati yang bergemeretakan;
Ayyub- Ayyub dalam perahu
Derita ayyub Ribuan Samudera
Tapi Muhammad dan Husein di dalam rahasia “hu”
tiada derita seperih Karbela
Juntai ikal Husaini,
Seribu Wangi Kesturi
Perih sekali darah Karbela,
tiada duka seperih Karbela
Muhammad Nabi tangisi ummatnya
dalam nafas akhirnya, “ummati” adalah gumannya
Tapi ummatnya mengucur darahnya
membantai Cucu Nabi biji mata Nabi
Oh mereka mengharap syafa’at
sembari menyiksa Cucu Nabi hingga sekarat
Oh, mereka mengharap kasih sayang Nabi
sembari menyeret wanita-keluarga Nabi hingga sekarat
Oh, mereka berkata kucinta Nabi
sambil menghancurkan biji-mata Nabi
Oh, mereka berkata kuberiman pada Nabi,
sembari melaknat keluarga Nabi
Terkutuklah mereka semua, di awal dan di akhir
terlaknatlah mereka semua, dalam jahannam kehinaan
Mereka katakan, kucinta Nabi
sembari membiarkan bayi Asghar kehausan
Mereka katakan kuberiman kepada Nabi?
sembari menombak cucu Nabi yang masih bayi?
Mereka katakan kumalu pada Nabi?
sembari mempermalu Zainab dan wanita-wanita Nabi
Mereka katakan kucinta kerabat Nabi,
tapi enggan meratapi Kepala Husain?
Terkutuklah orang yang mendengar berita kepala Husain
dan tak meratapinya hingga kering airmata darahnya
Terkutuklah orang yang mendengar keluarga Nabi tak boleh minum walau seteguk
dan tak mengutuki mereka - mereka yang memperbolehkan binatang minum tapi keluarga Nabi tidak !
Besarnya balaku, Zainab putri Fathimah berlari - lari
Husein akan tinggalkan aku, Zainab putri Fathimah meratap sendiri
Zainab menangis merintih menjerit di padang Karbela
Yazid bergembira ria mempermainkan Kepala Kakaknya
Besarnya balaku, Zainab putri Fathimah merintih sendiri
Lautan darah Keluarga Nabi, Zainab putri Fathimah merintih sendiri
dipersembahkan karangan bunga bagi para hamba nan mencapai ajal
kupersembahkan lautan darah ku bagi para Syahid di Karbela
kerna wangi darahnya melampaui taman gulistan
dan suci darahnya melampaui melati putih
dipersembahkan puja puja dan doa bagi para mukmin nan mencapai ajal
kupersembahkan Jantungku nan Berdarah perih bagi Imam Husain di Karbela
tak pernah kutangisi melainkan Wajah mu
tak pernah kuratapi melainkan Darah mu
tak pernah kurindu melainkan Senyum mu
dikaulah Husein pujaan hati
tak pernah kutangisi melainkan Zainab mu
tak pernah kuratapi melainkan Zainab mu
menggigil tubuh menahan derita
Zainab mu kau tinggalkan oh hancurlah hati
jika Musa dikhianati kaumnya dengan Sapi Samiri
Keluarga Muhammad dibantai dan disembelih ummatnya
jika Ibrahim harus menyembelih Ismail sendiri
Husein menggendong anaknya yang bayi dan ditombak di depan mata sendiri
jika Yusuf dimasukkan dalam sumur yang gelap
Keluarga Husein kehausan kekeringan dalam padang Karbela
Jika sembelihan Ibrahim diganti tuhan dengan domba
Kurban keluarga Muhammad telah tetap Husein Syahid di Karbela
Jika Nuh diselamatkan Tuhan dalam bahtera di samudera
Maka Husein dibantai, darah Keluarga Nabi pun mengucur bak samudera
sayap sayap beterbangan
burung burung bertebaran
Syuhada - syuhada beterbangan
bertemu Nabi Kekasih Tuhan
kering Karbala
hening Karbala
jerit demi jerit Lautan Darah Karbala
Tiada derita seperih Karbala
