Kamis, 08 Januari 2009

Renungan

Pluralitas dan mahiyyah

Dunia ini jamak. Ada kuda. Ada manusia. Ada gunung. Ada laut. Ada sebab. Ada akibat. Ada jauhar. Ada aksiden. Ya, seolah ada banyak “sesuatu-sesuatu”. Benarkah ada banyak sesuatu-sesuatu? Tapi bukankah keberadaan-nya tunggal. Keberadaan-nya satu?

Jelas pluralitas yang tampak di alam ini bukan merupakan pluralitas wujud. Karena telah dibuktikan bahwa wujud itu tunggal. Jadi pluralitas timbul dari sesuatu selain wujud. Apakah itu?

Yang menyebabkan kita membedakan kuda dengan manusia, tidak lain adalah ke”apa” an dari kuda dan ke”apa” an dari manusia. Bukan keberadaan-nya. Ke”apa”an tidak lain adalah jawaban dari pertanyaan apa itu .................? Istilah Arab dari ke”apa”an adalah mahiyyah. Istilah lain yang menunjukkan ke”apa”an adalah quiditas atau esensi.

Ke”apa”an merupakan sumber pluralitas. Subyek pengamat, mengquidifikasi berbagai hal, sehingga keberadaan yang tunggal memiliki berbagai “keapaan” dalam jiwa subyek pengamat. Jadi jelas karena ke”apa”an bersifat subyektif, pluralitas-pun bersifat subyektif. Belum tentu mereka bersifat obyektif.

Faham ‘ashalatul-wujud menyatakan yang benar-benar nyata hanyalah wujud, sedang mahiyyah tak nyata. Jadi menurut faham ini mahiyyah tak obyektif. Pluralitas pun tak obyektif. Yang nyata, yang obyektif hanyalah Tuhan, wujud qua wujud, Yang Tunggal.

‘Ashalatul-wujud merupakah faham yang didukung dan dibuktikan secara rasional oleh para filsuf pengikut Mulla Shadra maupun didukung dan dibuktikan secara intuitif oleh para ahli ‘irfan seperti ‘Ibn ‘Arabi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar