Rabu, 07 Januari 2009

Wahai Jalan Yang Terang

Yaa Haadiy, yaa Waadhihath-thoriiq;

Wahai Jalan Yang Terang

bagai Siang tanpa lentera

atau Surya tanpa purnama

Kau-lah Benar tanpa ditanya

Sekalian Alam apa adanya

Demikianlah, Maha Kudus Ia, Sang Maha Wujud, yang baginya Ada dan Tiada tak ada bedanya. Sungguh siang segera berubah jadi malam tatkala hendak mencahayai-Nya, dan malam segera berubah jadi siang tatkala hendak menyelimuti-Nya. Dan gunung-gunung yang tinggi berkerut bak palung samudera menampung secipratan dari tetes Air Mata Kesepian-Nya.

Demikianlah, Maha Kudus Ia dalam Haibah Samudra ke-Tunggal-anNya, hingga baginya Satu dan Jamak tak ada bedanya. Ia - lah, wujud an sich, yang hakikat Huuwiyah - Nya memestikan ke-MahaJamak-anNya. Ke-mahajamakan yang tak lain hanyalah merupakan tahta ‘izzah Raja Kudus Yang Penuh Kegemilangan (al-maaliku al-qudduusu al-majiidu).

Tatkala Ia turun dan melupakan Ke-Dia-an-Nya Yang Azali, Ia mengarungi Samudera Keberadaan-Nya Sendiri, Ia mabuk dalam kegemilangan badai Nama-Nama - Nya Sendiri, yang dalam tiap manifestasinya senantiasa memunculkan husn (keindahan), ‘isyq (cinta) dan huzn (kesedihan). Maka demikianlah batu diam tak bergeming, seolah tak tahu apakah gerangan di balik langit dan awan. Dan burung-burung sibuk menikmati pagi dengan kicauannya. Dan demikian pula para malaikat tak mengetahui kenapa manusia diciptakan?

ingin kubertanya pada waktu

“kapan Ia mulai lupa diri-Nya”

ia pun menjawab tergagap-gagap

“tahukah kau kapan aku mulai ada?”

Maka sungguh, dzikrullah, - yaitu mengingat hakikat ism al-jaami’ (Allah) -, itu lebih besar daripada berbagai amal lain. Dengannya, Ia mengingat diri-Nya Sendiri, Ia tak lagi tenggelam dalam gelombang kejamakan diri-Nya sendiri. Maka, Dia-lah Jalan Yang Terang. Karena Dia adalah Surya yang tak perlu lagi purnama, dan Kebenaran yang tak perlu lagi argumentasi. Dan Sungguh Ia berjalan melalui diri-Nya Sendiri, khususnya melalui Nama-Nya al-waadhihuth-thoriiq (jalan yang benderang), menikmati Samudera Kesempurnaan-Nya dan KeIndahan-Nya Yang Tiada Tara. Dan sungguh inilah perumpamaan orang-orang yang berjalan sawiyyan ‘ala shiroothil-mustaqiim. Melalui jalan benderang ini, Asma-Asma Allah tak ada yang tampak berlawanan, tak ada yang tampak membingungkan, bahkan mereka tampak bak surya-surya yang menerangi Ke-Indahan Wajah Sang Maha Cantik. Dan jalan benderang ini tiada lain adalah jalur Asma-Asma - Nya yang semestinya kita eksistensiasikan (wujud-kan) dalam memanifestasikan satu segi Ke-Tunggalan Kesempurnaan-Nya. Inna lillaahi, sesungguhnya kita semua dari Allah, wa inna ilaihi rooji’uun, dan kita semua bergerak menuju Allah. Orang yang telah tercerap dalam Asma al-waadhihith-thoriiq ini akan mengatakan;

Maghrabi aan chi tu ash mi talabi dar khalwat,

Man ayan bar sari har kucha wa ku mi binam.

O Maghrabi, apa pun yang engkau cari, dalam khalwat,

Itulah yang dipertontonkan di sudut setiap jalanan di kota dan pedesaah, kulihat,[1]

Maka, Asma-Asma-Nya Yang Manakah, al-waadhihuth-thoriiq bagi kita? Tidak lain adalah Muhammad (dan keluarganya), dari Nur-Nya hingga jasad-nya yang suci (S.A.W.W.). Karena sungguh kehadiran beliau di muka bumi adalah kesempurnaan dari asma - Nya al-haadiy sehingga orang-orang yang mencintainya menjadi; Man yahdillaah fa laa mudhilla lahu[2], Siapa yang ditunjuki Allah maka tak ada penyesat baginya. Tentang keluarga Nabi sebagai kesempurnaan manifestasi asma al-Haadiy, khususnya bagi Imam ‘Ali bin Abi Thalib, dapat diibarati dari ayat Inamaa anta mundzirun wa li kulli qoumin haad[3], Sesungguhnya engkau (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan bagi tiap kaum (terdapat) seorang pemberi petunjuk. Maka menyebut asma Rasulullah (S.A.W.), - misalnya dengan banyak membaca Sholawat-, membuat seseorang tercerap dalam Jalan Yang Benderang ini segera.

Maka Ia-lah Al-Haadiy, yang menunjukkan kepada tiap Nama-Nya Zat-Nya, dan inilah salah-satu makna yaa man dalla ‘ala dzaatihi bi dzaatihi [4](Wahai yang menunjuk atas Zat-Nya dengan Zat-Nya). Sehingga semua Nama-Nya yang tersentuh oleh Al-Haadiy tetap memandang lurus kepada Zat-Nya dengan tatapan husn (keindahan) yang dipenuhi dengan kerinduan ‘isyq.[5]

Maka Haafizh, - Sang Lidah Gaib-, mengumpamakan Ia Yang Sedang Turun untuk mengagumi diri (baca; Zat)- Nya sendiri dalam alam jamak sebagai Sang Ungu (lambang kesedihan) sebelum mereka semua ditunjuki oleh asma Al-Haadiy, -yang tidak lain adalah Satu Manifestasi dari Zat-Nya Sendiri-, yang diumpamakan sebagai bibir dan pipi yang ranum,[6]

Sang Ungu yang turun akan tumbuh mengelilingi bibir-Mu nan ranum

Maka Sang Ungu akan bertiup dan menghidupi tulip dengan elusan

Seribu hati kan terhempas dalam palung keterbuangan berceburan

Dari asap , dari nyala itu, yaitu dari Pipi-Mu nan makin ranum [7]

Al-Haadiy akan memanifestasikan dirinya dengan membuat Zat-Nya jelas bak Surya Gemilang. Kebenaran (Al-Haqq) sebagaimana ada-Nya, sesuai dengan potenti persepsi (dalam arti luas, -termasuk intelek) sang Nama yang diberi petunjuk. Misalnya dengan melewati khataraat azh-zhunuun[8] (pikiran yang melintas), yang tiada lain terdapat dalam hadhrah al-khayal. Demikianlah Cahaya Petunjuk Allah (baca pula; al-Haadiy) menyinari Nabi Yusuf (‘a.s.) melalui mimpinya yang terkenal. Beliau (‘a.s.) mengatakan; “Aku melihat sebelas bintang dan matahari dan bulan bersujud padaku” Dan pada akhir perkara, Yusuf (‘a.s.) mengatakan; “Ini adalah makna mimpiku yang lalu yang Tuhanku telah membuatnya benar.”Datangnya petunjuk-petunjuk dalam khatharaat ini juga ditegaskan oleh ‘Allamah Sayyid Muhammad Husain Tabataba`i. Dalam dzikr petunjuk bisa merupakan tampaknya matahari, bintang, cahaya terang, cahaya buram, bintang-bintang kecil, bulan dan lain-lain, di alam al-mitsal.[9] Tidak mungkin seorang pejalan bisa memahami eksistensi alam-alam tinggi tanpa tarikan langsung dan bimbingan langsung (tak hushuliy) dari gelora asma Al-Hadiy. Maka tanpa Al-Haadiy, Nama-Nama yang bertebaran dalam kemahajamakan tiada terhingga akan terhempas dalam Samudera Kebingungan - Nya terhadap diri-Nya Sendiri.

wallohu a’lam bish-showwaab



[1][1] Syaikh Muhammad Gazur I-Ilahi, Ana Al-Haqq, Rajawali Press, hal.131.

[2] QS Al-A’raf 177.

[3] QS Ar-Ra’du 7. Ats-Tsa`labi dalam tafsirnya tentang ayat ini meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas: “ Ketika ayat ini diturunkan, Rasulullah (S.A.W.) meletakkan tangannya di atas dadanya, lalu berkata : (aku adalahah al-Mundzir dan ‘Ali adalah al-Haadiy . Dan dengan engkau - wahai ‘Ali - orang akan mencapai jalan yhang benar”. Dan telah berkata Muhammad bin Muslim: Aku telah bertanya pada (Abu Abdillah) Ja’far ash-Shadiq (‘a.s.) tentang maksud ayat ini. Beliau menjawab “ Setiap Imam (yang sah) di zamannya itu, adalah al-Haadiy.” Baca; Syarafuddin al-Musawi, “Dialog Sunnah-Syi’ah” , (terjemahan Mizan), Cetakan VII, 1994, hal. 64.

[4] Kutipan dari doa Ash-Shobah dari Imam ‘ Ali bin Abi Thalib (‘a.s.).

[5] Ingat, Syaikh Al-Isyraq Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi (terjemahan), Penerbit Mizan, 1992, hal.79-80.

[6] Murni merupakan tafsiran / pemahaman simbol penulis atas puisi Haafizh tsb.

[7] Hafizh (versions by Paul Smith), Love’s Perfect Gifts, - Rubaiyat of Hafiz-, New Humanity Books 1986, pp. 33.

[8] Cuplikan doa Ash-Shobah dari Imam ‘ Ali bin Abi Tholib (‘a.s.), Yaa man qoruba nin khothoroootizh-zhunuun . (Wahai Yang Dekat dengan fikiran yang melintas).

[9] Light Within Me, Islamic Seminary Pub., Bombay, 1991, pp. 55.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar