Selasa, 30 Desember 2008

Doa: Cara Manusia Menjalin Hubungan Dengan Realitas Absolut

Doa: Cara Manusia Menjalin Hubungan Dengan Realitas Absolut

(Taufiq Haddad)

In most modern rooms you see an electrical light that can be turned on by a switch. But, if there is no connection with the main power house, then there can be no light. Faith and prayer is the connection with God, and when that is there, there is service. (Mother Teresa)

Saya mendapat pinjaman sebuah buku dari seorang teman yang menurut saya sangat bagus isinya. Sebelum meminjam, saya mengatakan bahwa saya ingin menulis di blog ini sebuah tulisan mengenai doa. Saya ingin lebih dapat mengetahui tentang apa sesungguhnya hakikat doa itu?. Lalu teman baik saya itu meminjamkan buku, Everything Starts From Prayer, sebuah buku yang mengutip kata – kata dari Mother Teresa. Kemudian saya membuka lembaran buku itu satu per satu, ternyata saya menemukan banyak hal (insight) baru yang saya kira orang lain pun layak untuk membaca, dan mendapatkan manfaat. Bolehlah disebut dalam blog kali ini, saya banyak terinspirasi oleh buku tersebut.

Saya tahu bahwa beliau adalah penganut Katolik, tapi itu bukan persoalan penting buat saya. Imam Ali as pernah menyampaikan pesan bahwa tidak penting bagi kita melihat sebuah pesan atau kata dengan melihat siapa yang berbicara, yang lebih penting adalah memperhatikan kata – kata yang keluar dari mulut siapa pun. “Lihat konteksnya, bukan subjeknya”.

Selalu secara ekstrim saya memberi contoh kepada teman – teman saya yang agak phobi jika saya mengutip pendapat mengenai kebenaran yang datang dari orang diluar Islam. Jika misalkan, ada seorang guru besar (professor) dari Harvard University, sebuah universitas ternama di dunia, mengatakan bahwa segi tiga sama kaki memiliki sudut yang berbeda besarnya pada masing – masing sudutnya, saya mengatakan jelas salah. Saya tak peduli apa latarbelakangnya, yang jelas kalimatnya jelas salah dan bertentangan dengan fakta yang ada. Namun sebaliknya jika ada murid SD kelas tiga berpendapat bahwa segitiga sama kaki memiliki sudut yang sama besar di masing – masing sudutnya, saya lebih memilih pendapat ini. Betapapun itu keluar dari seorang anak kecil yang masih bersekolah dasar seperti diatas. Di kesempatan lain, Imam Ali as pun pernah berpesan untuk mengenali kebenaran, bukan mengenalnya atas dasar oknum tertentu. Kebenaran memiliki ukurannya tersendiri.

Secara filosofis saya pernah mendiskusikan hal ini pada tulisan saya tentang filsafat perennial di awal – awal blog ini. Bagi teman atau siapapun yang ingin membacanya bisa melihat pada archive di blog ini.

Sebelumnya saya membaca buku bagus pula tentang doa karya Allamah Ibrahmi Amini, yang diterbitkan oleh penerbit Cahaya. Pada lain kesempatan saya berjanji akan mengekplorasinya di blog dalam kesempatan lain.

Kebetulan saya sempat bertemu dengan orang shalih ini beberapa waktu lalu. Melihatnya dari dekat memberi energi tentang ketenangan menghadapi situasi – situasi luar. Maksud saya, ketenangan yang dimilikinya seolah mampu mengendalikan pengaruh – pengaruh luar. Saya melihat beliau dari jarak yang amat dekat. Saat itu beliau dikerumuni oleh banyak orang yang ingin mendapatkan barakah dengan mencium tangannya. Saya merasakan aura spiritual dari kehadirannya di ruang itu. Saya termasuk salah seorang yang mendapat kesempatan mencium tangan beliau saat itu. Saya tetap merasakan aura itu selama beberapa hari. Beliau adalah salah seorang dari murid Alm. Imam Khomeini qs. dan juga Alm. Allamah Muhamamad Husein Thabatabai, pengarang Tafsir Mizan. Saya selalu berusaha tidak luput mengirimkan al - fatihah setiap hari kepada kedua orang besar ini, yang buku - bukunya telah banyak membimbing saya kepada sebuah cahaya.

Buku itu merupakan pengantar dari sebuah komentar (syarah) atas doa Kumayl, salah seorang dari sahabat Imam Ali as. Doa Kumayl pun salah satu doa terbaik dan indah yang pernah saya baca selain doa Arafah (doa Imam Husain as di hari Arafah, 9 Zulhijjah), doa Abu Hamzah Ats – Tsimali dll.

Dunia marketing membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Dunia pemasaran (marketing) adalah dunia yang berkutat untuk dapat memuasi kebutuhan manusia yang tak terbatas, baik melalui produk maupun servis yang diciptakanya. Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Biasanya ia berkaitan dengan hal – hal fisik. Sementara keinginan adalah sesuatu kebutuhan yang muncul akibat faktor dari luar. Ia tidak selalu harus dipenuhi. Ia dapat di tunda. Tidak demikian dengan kebutuhan. Ia tidak bisa ditunda, ia harus dipenuhi segera. Jika kita merujuk pada teori motivasi Maslow, konsep kebutuhan ini ada pada level dasar (basic need) yang harus dipenuhi sebelum kebutuhan diatasnya di penuhi.

Saya ingin mendiskusikan mengenai doa dengan merujuk pada sumber diatas. Mungkin pada bagian kali ini saya lebih banyak mengutipnya dari buku Mother Teresa.

Berdoa sesungguhya merupakan sebuah kebutuhan yang intrinsik pada kita. Manusia memiliki sesuatu yang harus dipenuhi dalam dirinya, tidak saja yang fisik. Benar bahwa manusia membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Namun manusia juga membutuhkan kasih sayang, cinta, kehangatan, kebahagiaan dll. Karena dalam dirinya, secara essensi, manusia terdiri dari satu unsur yang supra fisik. Tuhan meniupkan ruh. Orang barat sering menyebutnya sebagai intellect. Kebutuhan inilah yang sering hilang, dan diabaikan. Kebutuhan spiritual.

Dalam salah satu kutipannya Mother Teresa mengatakan,

“I wonder some time ago I visited a very wonderful home for old people. There were about forty people there and they had evertything, but they were all looking toward the door. There was not a smile on their faces, and I asked the sister in charge of them, “Sister, why are these people not smiling? Why are they looking towards the door?”. And she, very beutifully, had to answer and give the truth: ” It’s the same day. They are longing for someone to come and visit them.”This is great poverty”.

Imam Khomeini dalam Arbauna Haditsan (40 Hadits), bab Jihad Nafs, menyebut bahwa manusia hidup dalam dua dimensi, dimensi lahiriah dan dimensi ruhani. Tiap hari terjadi pertempuran yang seru untuk saling menguasai antara kekuatan yang cenderung kepada kebenaran, dan kekuatan yang cenderung kepada kefasikan, terutama dalam dunia spiritual.
Keinginan manusia tak ada habisnya. Keinginannya selalu berpindah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Mungkin dahulu ia menginginkan sebuah rumah, setelah dimilikinya, ia menginginkan yang lebih besar lagi dst.

Menurut Imam Khomeini keinginan pada bentuk yang temporer yang ada di dunia ini hanya akan mendorong manusia untuk terus memburu pada sesuatu yang mengarahkannya kepada sesuatu yang sempurna. Tiap kali ia menemukannya pada sesuatu, tak lama ketidakpuasannya pun akan terjadi. Dan hal ini akan terjadi dengan seterusnya hingga ia mendapat kesempurnaan yang abadi. Sesungguhnya kesempurnaan abadi hanyalah pada Allah SWT.

Manusia tidak pernah hampa dari kebutuhan dan keinginan. Bunda Teresa menyampaikan hal ini dengan kalimat yang menurut saya patut kita renungkan, karena mungkin saja kita pun salah satu dari orang yang disebutkannya:

"There is so much suffering in the world – very much. And this material suffering is suffering form hunger, suffering from homelessness, from all kinds of disease, but I still think the greatest suffering is being lonely, feeling unloved, just having no one."

Dalam kalimat lain, ia mengatakan:

"There are different kinds of poverty. In India some people live and die in hunger. But in the West you have another kind of poverty, spiritual poverty. This is far worse. People do not believe in God, do not pray. People do not care for each other. You have the poverty of people who are dissatisfied with what they have. Who do not know how to suffer, who give ini to despair. This poverty of heart is often more difficult to relieve and to defeat".

Jadi obat dari kehampaan dan kejenuhan adalah doa. Doa itu menjadi jembatan kita berhubungan dengan Yang Maha Agung, lagi Maha Perkasa, Allah SWT. Dia lah sumber dari segala kebutuhan dan keinginan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar