Sabtu, 27 Desember 2008

Keutamaan Imam Ali a.s. (V)

38. Kesamaan Substansi dengan Rasulullah Saw

Kendati kita tidak dapat menyingkap hakikat kesamaan ini, akan tetapi melalui jalan riwayat kita dapat memahami hakikat keberadaannya. Banyak riwayat yang dinukil dari Rasulullah Saw dengan penjelasan yang beragam yang menunjukkan bahwa orisinalitas dan substansi Amirul Mukminin ekuivalen dengan orisinalitas dan substansi Rasulullah Saw.

a. Nur (cahaya) Rasulullah Saw dan nur Amirul Mukminin telah ada sebelum penciptaan Adam dan keduanya dicipta dari unsur yang sama.[83]

Yang dimaksud nur di sini adalah unsur maknawi dan fitrah malakuti yang sangat memainkan peran penting dalam membangun struktur wujud para nabi dan para maksum.

b. Allah Swt menciptakan manusia dari pohon yang beragam. Akan tetapi ia menciptakan Rasulullah Saw dan Imam ‘Ali As dari pohon yang satu.[84]

Rasulullah Saw bersabda: “

ياٰ عَلِيُ النَّاسُ مِنْ شَجَرٍ شَتَّى وَأَنَا وَأَنْتَ مِنْ شَجَرَةٍ وَاحِدَةٍ

c. Allah Swt secara bersamaan memilih ‘Ali dan Rasulullah Saw.[85]

d. Ali adalah diri Nabi Saw.

Di samping itu, ayat mubahalah dan riwayat-riwayat yang menjelaskan ayat tersebut, terdapat riwayat tersendiri yang menjelaskan integrasi antara wujud Rasulullah Saw dan wujud Imam ‘Ali As.

Menurut riwayat ini, tatkala diperlukan, Rasulullah Saw memberikan ancaman kepada sebuah kaum atau kabilah, sembari menunjuk ‘Ali ia bersabda: “Ataukah kalian meninggalkan perbuatan itu, atau aku mengirim seseorang kepada kalian yang dirinya seperti aku.” [86]

e. Darah dan daging ‘Ali adalah darah dan daging Rasulullah Saw.[87]

لَحْمُهُ لَحْمِي وَدَمُهُ دَمِي

f. Ali adalah semisal Rasulullah Saw.[88]

g. Ali adalah akar dan fondasi Rasulullah Saw.[89]

عَلِيٌ أَصْلِي

Mungkin yang dimaksud dari akar dan fondasi di sini bahwa sebagaimana akar yang menjadi sebab tegaknya sebuah pohon. Keberadaan ‘Ali menjadi sebab tegaknya dan dawamnya agama Rasulullah Saw dan sebagai konsekuensinya lestarinya nama Hadrat Rasulullah Saw. Juga bermakna bahwa ‘Ali adalah akar dan fondasi Rasulullah Saw, makna urf ini adalah lebih dekat digunakan untuknya.

h. Ali ibarat kepala bagi badan Rasulullah Saw.[90]

عَلِيٌّ مِنِّي كَرَأسِي مِنْ بَدَني

39. Tarbiyah Imam ‘Ali As

Seluruh ahli sejarah sepakat bahwa Imam ‘Ali As semenjak masa kecil tumbuh dan besar di dalam pangkuan dan di bawah asuhan Rasulullah Saw.[91]

Pada tahun-tahun sebelum bi’tsat Rasulullah Saw di Makkah terjadi masa paceklik dan kelaparan. Dan kaum Quraisy ketika itu berhadapan dengan kesulitan keuangan. Hadrat Abu Thalib As memiliki banyak anak; Oleh karena itu, Rasulullah Saw memberikan usulan kepada pamannya ‘Abbas untuk mengambil salah satu dari anak Abu Thalib dan memikul tanggung jawab merawat dan mengasuh mereka.

‘Abbas memikul tanggung jawab merawat dan mengasuh Ja’far dan Rasulullah Saw merawat dan mengasuh ‘Ali As.

Ibn Atsir menganggap peristiwa ini sebagai nikmat Ilahi yang dianugerahkan kepada ‘Ali dan ia menuliskan: “Setelah itu, ‘Ali As diasuh dan dirawat dalam haribaan Rasulullah Saw; hingga Hadrat Nabi Saw diutus untuk menyampaikan risalah dan ‘Ali menjadi pengikutnya.”[92]

Hadrat ‘Ali sendiri berkata tentang masalah ini:

“Ketika itu aku berusia belia, aku berada di sampingnya dan memberiku tempat di dadanya, menidurkanku dalam pembaringannya; sedemikian sehingga seolah-olah badanku menjadi badannya, dan ia menebarkan semerbak bau badannya kepadaku dan terkadang ia menguyah sesuatu kemudian menyuapkannya kepadaku.”[93]

Sejarawan Syahir Mas’ud dalam kitabnya Itsbât al-Wasiyah menulis: “Tatkala ‘Ali lahir, Rasulullah Saw telah berusia tiga puluh tahun. Hadrat Rasulullah Saw sangat mencintai dan mengasihi ‘Ali. Ia meminta kepada Fatimah binti Asad untuk meletakkan buaian atau ayunan ‘Ali di samping pembaringannya. Dan Rasulullah Saw mengemban tanggung jawab untuk merawat dan mengasuh ‘Ali; ia meminumkan susu kepada ‘Ali. Dan mengayun buaian ‘Ali, hingga ia tertidur pulas. Dan apabila ia terbangun, Rasulullah Saw akan bermain dengannya. Terkadang Rasulullah Saw menggendong ‘Ali di pundaknya, memeluk dan mendekapnya dan bersabda: “’Ali adalah saudaraku, penolongku, pilihanku, washiku, bekalku, menantuku dan orang kepercayaanku.”

Rasulullah Saw membawa ‘Ali di sekitar kota Makkah dan menghabiskan waktu di sekeliling bukit, gunung dan tempat tinggi. Dan keadaan ini terus berlangsung hingga masa paceklik datang menimpa penduduk kota Makkah. Dan Abu Thalib adalah seorang pemurah, santun dan ramah…

Semenjak masa itu, Rasulullah Saw mengemban tugas dan tanggung jawab membina, merawat dan mengasuh ‘Ali.”[94]

40. Latar Belakang dalam Islam

Tanpa syak ‘Ali merupakan orang pertama yang memeluk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah Saw. Namun sebelum memasuki pembahasan ini, perlu kiranya menyebutkan dua poin di sini:

Pertama, Keislaman Hadrat Amirul Mukminin As sangat berbeda dengan keislaman orang lain. Mereka memeluk Islam setelah sekian lama menjadi penyembah berhala; akan tetapi Amirul Mukminin As sekali-kali tidak pernah kepalanya ia tundukkan kepada selain Tuhan dan menyembah berhala.

Apabila kita berkata bahwa ia adalah orang pertama yang memeluk Islam, serupa dengan makna sabda Nabi Ibrahim al-Khalil As: “Aku adalah Muslim yang pertama.” (Qs. al-An’am [6]:163 )

Apabila kita berkata bahwa ia orang pertama yang menjadi Mukmin, selaras dengan makna sabda Nabi Musa As: “Aku adalah yang pertama-tama beriman.” (Qs. al-A’raf [7]:143)

Apabila kita berkata bahwa ia adalah ‘Ali memeluk Islam, senada dengan makna al-Qur’an yang mengisahkan Nabi Ibrahim: “Ketika Tuhan bertanya kepadanya: “Tunduk dan patuhlahٰ” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk dan patuh kepada Tuhan semesta alam.” (Qs. al-Baqarah [2]:131)

Dan apabila kita berkata bahwa ia adalah seorang mukmin, ketahuilah bahwa hal itu sejalan dengan firman Ilahi yang menarasikan kedudukan Rasulullah Saw: “Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan oleh Tuhannya.” (Qs. al-Baqarah [2]:285)

Kedua, Iman dengan makna kecendrungan atau kepercayaan kepada sesuatu berbeda pada setiap tingkatan pemikiran dan orang. Dan perbedaan ini adalah tingkatan iman yang menyebabkan adanya kedekatan kepada dan kejauhan dari Allah Swt.

Amirul Mukminin As berada pada tingkatan tertinggi iman dan yaqin kepada Allah Swt dan maarif Islam. Dan ia sendiri berkata: “Demi Allah! Sekiranya seluruh tirai tersingkap, tidak akan bertambah yakinku.”[95]

Dan Rasulullah Saw bersabda tentang iman Amirul Mukminin As: “Apabila imannya ‘Ali As di letakkan pada sebuah bagian teraju dan langit beserta bumi di bagian sebelahnya, maka iman ‘Ali akan lebih berat.”[96]

Bahkan apabila terlepas dari dua sisi yang telah disebutkan, kita menganggap ‘Ali seperti sebagian kaum Muslimin, ia tetap menjadi orang yang pertama memeluk Islam; artinya pada hari ketika Rasulullah Saw diutus.

Anas bin Malik berkata: “Rasulullah Saw diutus pada hari Senin, dan ‘Ali mengerjakan shalat bersamanya pada hari Selasa.[97] Atau ia beriman kepadanya.[98] Dan hari tatkala Rasulullah Saw mengumumkan risalahnya, orang yang pertama mengumumkan dengan jelas beriman dan mendukung Rasulullah Saw adalah ‘Ali. Kendati menurut ukuran usia ketika itu, ia tergolong sebagai orang yang paling kecil di antara orang-orang yang hadir.[99]

Lantaran ketika itu, ‘Ali masih berusia sepuluh tahun. Ia sendiri bersabda: “Aku menjadi Muslim mendahului semua orang. Padahal ketika itu aku belum lagi menginjak masa baligh.[100]

Latar belakang Hadrat ‘Ali sedemikian masyhur dan tenar sehingga para sejarawan Ahli Sunnah berkata: “Orang yang pertama masuk Islam adalah Ali. Dan hal ini merupakan ijma’ (konsensus) seluruh ahli sejarah.”[101]

Kebanyakan sahabat Rasulullah Saw dan para thabiin mengakui akan keutamaan ini.

‘Allamah Amini Ra menyebutkan lima puluh satu orang sahabat dan thabiin dan ulama Ahli Sunnah yang meriwayatkan keutamaan ini. Ia juga menyebutkan lima belas orang pujangga awal kedatangan Islam mendendangkan syair-syair mereka tentang keutamaan ‘Ali As.[102]

Di samping itu, terdapat banyak hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw bahwa ‘Ali adalah orang yang pertama memeluk Islam.[103]

Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang pertama akan mendatangiku di samping telaga adalah orang yang pertama masuk Islam. Dan orang pertama yang masuk Islam itu adalah ‘Ali bin Abi Thalib.”[104]

Dan Rasulullah Saw bersabda: “Orang pertama yang menunaikan shalat bersamaku adalah ‘Ali.”[105]

Dan bersabda: “Tidak ada yang shalat bersamaku selama tujuh tahun kecuali ‘Ali. Dan para malaikat memberikan salam kepada kami berdua.”[106]

Menurut hadits yang dinukil oleh Mas’udi dalam kitab Itsbât al-Washiyya bahwa Hadrat ‘Ali bin Abi Thalib dua tahun sebelum bi’tsat mengerjakan shalat bersama Nabi Saw di Makkah.[107]

Pelbagai redaksi dalam beberapa riwayat yang menegaskan makna ini. Sebagai contoh, kami akan menunjukkan beberapa redaksi yang masyhur, di antaranya:

1. Orang pertama yang memeluk Islam;[108]

2. Orang pertama yang beriman;[109]

3. Orang pertama yang mengerjakan shalat;[110]

4. Orang pertama yang memeluk Islam mendahului semua orang;[111]

5. Orang pertama yang mukmin dan pertama yang memeluk Islam mendahului semua orang.[112]

Hadrat ‘Ali sendiri berulang kali menegaskan poin ini, ia bersabda: “Aku adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah Saw.”[113]

Demikian juga ia bersabda: “Aku adalah orang pertama yang menunaikan shalat bersama Rasulullah Saw.”[114]

Dalam satu khutbah Nahj al-Balâgha disebutkan:

“Aku senantiasa bersamanya; dalam perjalanan (safar) atau mukim; laksana anak unta bersama induknya. Setiap hari ia menunjukkan akhlaknya dan ia memintaku untuk mengikutinya. Setiap tahun ia bersendiri di gua Hira dan aku melihatnya. Tidak ada yang melihatnya kecuali aku. Ketika itu, tidak satu pun rumah yang dijumpai yang di dalamnya adalah orang-orang Muslim kecuali rumah Rasulullah Saw dan Khadijah. Dan aku adalah orang yang ketiga dari mereka. Aku melihat benderangnya wahyu dan kenabian. Dan aku mencium semerbak nubuwwah.[115]

Dan bersabda: “Sebelum seseorang dari umat ini menyembah Tuhan, aku menyembah Allah Swt di samping Rasulullah Saw selama tujuh tahun.”[116]

41. Ilmu dan Pengetahuan

Salah satu sifat yang harus diperhatikan dalam menetapkan pemimpin adalah ilmu dan pengetahuan. Ilmu dan pengetahuan memiliki pengaruh penting dalam menetapkan pemimpin dan imam umat Islam yang harus diatur dan dimenej sesuai dengan hukum syariat Islam.

Apabila kita menganggap bahwa ilmu dan pengetahuan merupakan syarat kepemimpinan umat Islam, maka sesuai konsensus (ijma’) seluruh ulama dalam mazhab-mazhab Islam berkata bahwa ‘Ali merupakan orang yang paling alim dan berpengetahuan dalam komunitas Islam.

Hadrat ‘Ali dalam masa dua puluh tiga tahun bersama dan di samping Rasulullah,[117] sedemikian ia menguasai ahkam (masalah-masalah hukum) agama sehingga tidak satu pun yang tertutup olehnya dalam masalah usul dan furu’ agama. Seluruh sahabat memerlukan ilmunya; sementara ia selepas Rasulullah Saw tidak perlu kepada siapa pun.

Lantaran selama masa dua puluh tiga tahun, setiap kali ia bertanya, ia mendengar jawabannya. Dan setiap kali ia diam tanpa soal, Rasulullah Saw yang mengajukan pertanyaan.[118] Rasulullah Saw bersabda kepadanya: “Aku memiliki tugas untuk mendekatimu dan mengajarkanmu.”[119]

Hadits-hadits nabawi yang bercerita tentang ilmu yang melimpah ruah Amirul Mukminin As sangat banyak jumlahnya. Di antaranya:

· Orang yang paling berilmu setelahku adalah ‘Ali bin Abi Thalib As[120]

أعلم أمتي من بعدي علي بن أبي طالب

· ‘Ali adalah tempat menyimpan ilmuku.”[121]

علي أمير المؤمنين . . . . . وعاء علمي

· ‘Ali adalah gerbang ilmuku.”[122]

علي باب علمي

· ‘Ali adalah kota ilmuku.”[123]

علي عيبة علمي

· “Engkau adalah telinga yang mendengar ilmuku.”[124]

أنت أذن واعية لعلمي

· Sahabat yang paling alim dan paling teliti dalam mengadili.[125]

· Ilmu ‘Ali lebih banyak dari yang lain.”[126]

· Aku adalah rumah hikmah dan ‘Ali adalah gerbang rumah ini.”[127]

أنا دار الحكمة وعلي بابها

· Aku adalah kota hikmah dan ‘Ali gerbang kota ini. Barang siapa yang menghendaki hikmah, ia harus melalui pintunya.”[128]

أنا مدينة الحكمة وعلي بابها

فمن أراد الحكمة فليأت الباب

· Aku adalah kota ilmu dan ‘Ali gerbang kota ini. Barang siapa yang menghendaki ilmu, harus melalui pintunya.”[129]

أنا مدينة العلم وعلي بابها

فمن أراد العلم فليأت الباب

Almarhum Allamah Amini Ra pada jilid keenam al-Ghadir (hal 61 hingga 77) dalam memberikan ulasan atas syair di bawah ini menulis:

وَقَالَ رَسُولُ اللهِ إِنّي مَدِينَةٌُ مِنْ الْعِلْمِ وَهُوَ الْبٰابُ فَاقْصُدِ

Dan bersabda Rasulullah aku adalah kota ilmu

Dan ia adalah gerbang maka tujulah ia

Dan ia menyebut seratus empat puluh tiga orang ulama Ahli Sunnah yang meriwayatkan hadits:

أَنٰا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بٰابُها

Dan ‘Ali As sendiri bersaba: “Rasulullah Saw mengajarkan kepadaku seribu bab ilmu kepadaku dan terbuka dari setiap babnya seribu bab ilmu.”[130]

Amirul Mukminin As bersabda: “Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku, meski kalian bertanya ihwal segala sesuatu di bawah arsy, aku akan menjawabnya.”[131]

Dan bersabda: “Demi Allah! Aku mengetahui setiap ayat. Sebab apa turunnya dan di mana turunnya. Karena Tuhanku memberkatiku dengan hati yang berpikir dan lisan yang penuh dengan pertanyaan.[132]

Dan bersabda: “Bertanyalah kepadaku tentang kitab Allah (al-Qur’an). Demi Allah! Aku mengetahui setiap ayat yang turun pada malam hari, atau siang hari, di padang sahara atau di gunung.[133]

Khalifah kedua berkata: “’Ali lebih alim dari kami semua dalam mengadili.”[134]

Dan Ibn Mas’ud berkata: “’Ali lebih alim dari semua penduduk kota Madinah dalam mengadili.”[135]

Dan berkata: “’Ali lebih unggul dari seluruh orang dalam umat Islam. Lebih alim dan lebih pandai dalam mengadili.”[136]

Perlu diingatkan di sini bahwa berpengetahuan atau alim dalam mengadili, adalah ungkapan lain dari alim dalam Islam dan Sunnah Rasulullah Saw.

‘Aisyah berkata: “’Ali adalah orang yang paling alim terhadap Sunnah.”[137]

Dan Imam Hasan Mujtaba As pada keesokan hari syahadah ayahandahnya bersabda kepada orang-orang: “Kemarin seorang dari kalian telah pergi yang ilmu dan pengetahuannya tidak ada yang melebihnya pada masa lalu dan masa akan datang.”[138]

Ibn ‘Abbas juga menambahkan: “Ilmu terbagi menjadi enam bagian: kelima bagian ilmu itu berada pada ‘Ali dan satu bagiannya berada pada manusia. Di mana ‘Ali juga memiliki bagian dari satu bagian tersebut. Dan saham ‘Ali lebih banyak dan lebih berilmu.”[139]

Dan ia berkata lagi: “Hikmah telah dibagi menjadi sepuluh bagian: sembilan bagian diberikan kepada ‘Ali dan satu bagiannya kepada seluruh manusia.”[140]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar