Sabtu, 27 Desember 2008

Keutamaan Imam Ali a.s. (VI)

42. Pengorbanan dan Pembelaan terhadap Islam

Semua orang ketika menelaah sejarah awal Islam, ia akan menemukan bahwa Imam ‘Ali As melewatkan seluruh usianya untuk membela Islam.

Tidak satu masa pun Islam memiliki pembela yang lebih tinggi dari ‘Ali As. Dan sebagaimana Ibn ‘Abbas berkata, tidak seorang pun yang melebihi Imam ‘Ali dalam mengorbankan jiwanya pada medan tempur yang berbahaya.[141]

Kita dalam kesempatan ini akan menunjukkan beberapa periode signifikan sejarah Islam dimana Amirul Mukminin As dengan kehadirannya di medan laga, hak dan Islam meraih kemenangan.

Setelah pengorbanan Hadrat Amirul Mukminin As, yang ketika itu ia berusia tiga belas tahun, di Makkah. Epik ini sendiri memiliki kisah yang panjang dan heroisme. Pengorbanan ini merupakan contoh yang pertama. Dengan mengorbankan jiwanya, Amirul Mukminin As tidur di pembaringan Rasulullah Saw pada malam hijrah. Tindakan prawira ini dan penuh dengan pengorbanan ini telah menjadi sebab kelalaian kaum musyrikin akan kehadiran Nabi Saw di Makkah. Dan Nabi Saw dengan memiliki kesempatan yang cukup dan tanpa kepanikan serta ketakutan dari penguntitan, ia merancang rencana hijrahnya.[142]

Mengingat pentingnya malam ini dan nilai tindakan ‘Ali, telah memadai bagi kita untuk mengetahui bahwa ayat ini turun berkenaan dengan tindakan Amirul Mukminin As:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرَيِ نَفْسَهُ اِبْتِغٰاءَ مَرْضٰاةِ الله وَاللهُ رَؤُوفُ بِالْعِبٰاد

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Mahapenyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Qs. al-Baqarah [2]:207] [143]

Imam Sajjad As bersabda:

إن أول من شرى نفسه ابتغاء رضوان الله هو علي بن أبي طالب

“Orang pertama yang mengorbankan jiwanya di jalan Allah Swt adalah ‘Ali bin Abi Thalib As.”[144]

Setelah masa hijrah, salah satu contoh pengorbanan Amirul Mukminin As dalam menjaga Islam, keikutsertaannya dalam perang Badar.

Dari berbagai riwayat yang dinukil dalam bagian ini disebutkan bahwa Amirul Mukminin As sedemikian prawiranya ia rela mengorbankan jiwanya. Dimana lantaran kehadirannya - bahkan setelah syahadahnya tersimpan dalam benak kaum Muslimin - setelah itu, kitab-kitab riwayat dan hadits melimpah menyebutnya.[145]

Pada hari peperangan Uhud ia berdiri membela Rasulullah Saw dimana sebagian muhaddits (pakar hadits) berkata: “Tekanan yang terjadi pada perang Uhud dapat ditangani dengan kesabaran ‘Ali.”

Ia sendiri bersabda: “Aku pada peperangan Uhud menerima enam belas kali pukulan.”[146]

Ibn Atsir dalam Usud al-Ghaba menulis: “Pada hari peperangan Uhud, ia menderita sebanyak enam belas kali pukulan yang masing-masing dari pukulan itu membuatnya terjatuh; akan tetapi Jibril kemudian mengangkatnya.”[147]

Dalam sebuah riwayat: “Orang yang membunuh pembawa panji kaum Musyrikin adalah ‘Ali As. Tatkala mereka terbunuh, Rasulullah Saw melihat sekelompok kaum musyrikin: Wahai ‘Ali! Seranglah mereka. Hadrat Amirul Mukminin segera menyerang yang membuat pasukan musyrikin kocar-kacir dan sebagian mereka terbunuh.

Setelah itu, Rasulullah Saw melihat sekelompok yang lain. Ia memerintahkan ‘Ali untuk menyerang. ‘Ali As menyerang; lasykar musuh pun kocar-kacir dan sebagian mereka terbunuh. Dan karena kejaidan ini berulang sebanyak tiga kali, Jibril berkata kepada Rasulullah Saw: Wahai Rasulullah! Inilah yang disebut pengorbanan.”

Hadrat Rasulullah Saw bersabda: “Iya. Karena ia dariku dan aku darinya.”

Jibril berkata: “Dan aku dari kalian berdua.”

Kemudian terdengar suara yang menggemakan:

لا سيف إلا ذو الفقار ولا فتى إلا علي

“Tidak ada pedang kecuali Dzulfiqar dan tidak ada pemuda selain ‘Ali.”[148]

Dalam peperangan Khandaq, tebasan pedang ‘Alilah yang menjadi penentu kemenangan perang. Dan ‘Amru bin Abduwud yang nyaris membuat lasykar kaum Muslimin goncang, tersungkur di atas tanah.

Selepas itu, kaum kafir yang menyerang, kabur tunggang langgang karena ketakutan dan Madinah kota nabi kembali menjadi aman dari gempuran dan serangan kaum musyrikin.

Medali keprawiraan yang dianugerahkan oleh Nabi kepadanya yang senantiasa melekat di dadanya adalah:

“Tebasan pedang ‘Ali pada perang Khandaq lebih baik dari seluruh amal kebaikan umatku hingga hari kiamat.”[149]

Dan tatkala Hadrat ‘Ali As maju ke medan laga, Rasulullah Saw bersabda: “Seluruh iman maju ke medan seluruh kekufuran.”

Dan pembawa wahyu turun membacakan ayat berkenaan dengannya:

﴿وردَّ الله الذين كفروا بغيظهم لم ينالوا خيراً وكفى الله المؤمنين القتال

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan.” (Qs. al-Ahzab [33]:25)

Turunnya ayat ini berkaitan dengan Amirul Mukminin sedemikian masyhurnya sehingga – menurut riwayat yang dinukil oleh Suyuthi dalam kitab Durrul Mantsur dari Ibn Mas’ud – para sahabat besar Rasulullah Saw dan pembaca al-Qur’an membaca ayat ini:

وكفى الله المؤمنين القتال بعليٍ

“Allah Swt membuat cukup kaum Muslimin dengan keberadaan ‘Ali.“

Sebagai sisipan dari ayat ini, hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud menunjukkan bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan Amirul Mukminin As, adalah sangat pasti di sisi Ibn Mas’ud.

Khaibar merupakan satu lagi pentas kehadiran penting Amirul Mukminin As; artinya bahwa tanpa kehadiran Amirul Mukminin As, Islam akan terhenti di balik gerbang Khaibar yang terkunci. Dan lasykar Islam akan kembali ke Madinah dengan kecewa. Kemudian, tidak jelas apa yang akan dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap Islam.

Dua hari berturut-turut lasykar Islam menelan kekalahan dari Yahudi dan kembali ke barak mereka.

Rasulullah Saw di hadapan seluruh lasykar Muslimin bersabda: “Besok, aku akan serahkan panji kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah serta Rasul-Nya juga mencintainya; ia adalah seorang penerjang yang tidak pernah kabur dari medan juang.”

Pada malam hari tersebut, seluruh sahabat melewati malam itu dengan harapan bahwa esok hari, Rasulullah Saw menyerahkan panji kepada mereka.

Akan tetapi tatkala fajar pagi menyingsing, Rasulullah Saw menyerahkan panji peperangan kepada Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib As.

Mereka berkata: “Wahai Rasulullah! ‘Ali matanya sakit. Rasulullah Saw bersabda: “Bawalah ia kemari!” Rasulullah Saw mengoleskan air liurnya ke mata ‘Ali As dan menyerahkan panji kepadanya. Dan Imam ‘Ali bergegas ke medan tempur.

Dan Islam meraih kemenangan – yang masyur dalam sejarah - berkat Amirul Mukminin As. Dan problema kehadiran Yahudi di Jaziratul ‘Arab dapat dipecahkan.[150]

Pada hari itu, tameng jatuh ke tangan Amirul Mukminin As; ia mengangkat salah satu gerbang hingga akhir peperangan, tameng itu senantiasa berada di tangannya.

Setelah peperangan, lasykar mengamati dan mengetahui bahwa untuk menyerang gerbang tersebut diperlukan empat puluh orang.[151] Dan untuk mengembalikan gerbang tersebut diperlukan sebanyak delapan orang.[152] Pada peperangan Hunain dimana seluruh lasykar Muslimin kabur dari medan perang dan meninggalkan Rasulullah Saw sendiri, kecuali tiga orang yang bertahan setia di samping Rasulullah Saw. Orang itu adalah: ‘Abbas bin Abdul Muththalib, Abu Haritsah putra paman Nabi Saw, dan Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib. Imam ‘Alilah yang dengan ksatria berperang di samping Nabi Saw dan membelanya, hingga peperangan berakhir dengan kemenangan Islam.”[153]

Sebelum perang Hunain meletus, juga pada hari Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), Imam ‘Alilah yang berdiri di pundak Rasulullah Saw mensucikan Ka’bah dari polusi berhala-hala.[154]

Ringkasnya Imam ‘Ali As senantiasa ikut serta dalam setiap peperangan kecuali pada perang Tabuk yang harus tinggal di Madinah menuruti perintah Rasulullah Saw.[155]

Ibn ‘Abbas berkata: “Panji Rasulullah Saw dalam setiap penyerangan berada di tangan ‘Ali As.[156]

Dan demikianlah wujud Imam ‘Ali sebagai penegas terhadap wujud mulia Rasulullah Saw.[157]

Rasulullah Saw bersabda:

لما عُرِج بي رأيت على ساق العرش مكتوباً

لا إله إلا الله محمد رسول الله أيدته بعلي ونصرته بعلي

“Tatkala aku dibawa mikraj, aku melihat di bahwa singgasana Arsy tertulis: “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Bersama ‘Ali aku menegaskannya; bersama ‘Ali aku menolongnya.[158]

43. Kekerabatan

Kekerabatan dengan Rasulullah Saw sepanjang perjalanan sejarah dapat dijadikan sandaran sebagai salah satu keutamaan bagi orang yang menjalankan kursi khilafah.

Selama tidak dapat dijumpai seseorang yang mampu menjalankan roda khilafah, ia tidak akan mengklaim kekerabatan dengan Rasulullah Saw.

Keutamaan ini (kekerabatan) telah menjadi kriteria dalam pemilihan khalifah pada Saqifah Bani Saidah. Kaum Muhajir yang hadir di Saqifah menggunakan dalil adanya kedekatan dan kekerabatan mereka dengan Rasulullah Saw. Dan dengan alasan atau dalil ini, mereka mencegah kaum Anshar untuk memberikan baiat kepada Sa’ad bin ‘Ubadah.[159]

Kami juga berkeyakinan bahwa kekerabatan dengan Rasulullah Saw merupakan syarat untuk menggantikan dan menjadi khalifah Rasulullah Saw; akan tetapi bukan kekerabatan secara lahir yang dijadikan sebagai dalil oleh orang-orang yang hadir di Saqifah. Kendati Amirul Mukminin As secara lahir juga merupakan orang yang paling dekat kekerabatannya dengan Rasulullah Saw.

Ia adalah putra paman, mantu dan saudara Rasulullah Saw. Dan di antara kaum Muslimin tidak seorang pun yang memiliki tiga hubungan seperti ini pada saat yang bersamaan. ‘Ali adalah putra paman Rasulullah Saw, Abu Thalib yang hubungannya dengan Rasulullah Saw seperti hubungan antara anak dan ayah. Dan ia melewatkan usianya dalam membela Islam dan Rasulullah Saw. Dan pada keadaan yang paling genting sekalipun tidak akan melepaskan dukungannya kepada Rasulullah Saw.[160]

Ia adalah menantu Rasulullah Saw; suami Hadrat Shiddiqah Tahirah yang merupakan insan yang paling dicintai oleh Rasulullah Saw.[161]

Siapa saja dari kalangan sahabat yang mencoba mengajukan lamaran untuk meminang putri kinasihnya, Rasulullah Saw menolak; hingga ‘Ali datang mengajukan lamarannya.[162]

Dan bersabda: “Allah Swt menitahkan aku untuk menikahkan Fatimah kepada ‘Ali As.”[163]

Dan ia adalah saudara Rasulullah Saw. Di kalangan Anshar dan Muhajirin, Rasulullah Saw memilihnya sebagai saudara.[164] Dan bersabda:

أنت أخي في الدنيا والآخرة

“Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat.”[165]

أنت أخي وصاحبي

Dan bersabda: “Engkau adalah saudara dan orang yang menyertaiku.”[166]

Rasulullah Saw terkadang memanggilnya dengan sebutan saudara. Terkadang ia menyebut dirinya sebagai ‘Ali dan terkadang menganggapnya sebagai Ahli Baitnya.

Tatkala al-Qur’an menugaskan kaum Muslimin untuk mencintai Rasulullah Saw sebagai upah risalahnya dan bersabda: “

﴿قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ أَجْراً إِلَّاالْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبٰى

Wahai Rasul Kami katakanlah kepada kaum Muslimin bahwa aku tidak menghendaki upah dari tugas penyampaian risalah kecuali kalian mencintai keluargaku.” (Qs. asy-Syu’ara [25]:23)

Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah! Siapakah keluargamu itu?”

Rasulullah Saw bersabda: “’Ali, Fatimah dan kedua putranya.”[167]

Iya. ‘Ali As Memiliki kedekatan yang sangat erat dan lekat dengan Rasulullah Saw. Dan Rasulullah Saw merasa bangga dengan kedekatan ini. Seluruh sahabat juga mengakui kedekatan tersebut.

Pada hari Syura (musyawarah untuk memilih pengganti ‘Umar, AK), Amirul Mukminin As berbicara kepada mereka: “Demi Allah! Apakah di antara kalian ada yang memiliki kedekatan kepada Nabi Saw melebihi kedekatan yang aku miliki kepadanya?” Mereka seluruhnya berkata:”Demi Allah, tidak ada.”[168]

Namun kedekatan ‘Ali As kepada Nabi Saw juga lebih erat dan lekat dibandingkan hal ini. Amirul Mukminin As tidak sekedar jiwa Rasulullah Saw tetapi juga merupakan Ahli Bait Rasulullah Saw.[169]

Tatkala ayat Tathir (Qs. Ahzab [33]:33) turun, Hadrat Rasulullah Saw memanggil ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain untuk mendekat kepadanya dan berkata: “Tuhanku, mereka adalah Ahli Baitku.”[170]

Supaya kaum Muslimin tahu siapakah Ahli Bait Rasulullah, tatkala ayat suci turun:

﴿وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاة واصطبر عليها

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah atasnya.” (Qs. Thaha [20]:132)

Selama beberapa hari saban Subuh Rasulullah Saw datang ke kediaman mereka dan bersabda:

الصلاة رحمكم الله إنما يريد الله أن يذهب عنكم

الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيراً

Waktu shalat. Semoga Tuhan merahmatimu. Sesungguhnya Allah hendak menjauhkanmu dari segala kotor dan nista Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.”

Membacakan ayat ini, memerlukan penjelasan dan elaborasi tersendiri. Maksud Rasulullah Saw adalah supaya seluruh kaum Muslimin mengetahui Ahlul Bait Nabi Saw.

Kemudian mengutus ‘Ali As untuk mengambil surat al-Bara’ah dari Abu Bakar dan menyampaikannya pada orang-orang haji di Makkah. Dalam menjelaskan perbuatan ini, Rasulullah Saw sendiri bersabda:

لاٰ يَبْلُغُها إِلاَّ رَجُلٌ مِنْ أَهلْي

“Tidak menyampaikan surat ini kecuali orang dari keluargaku.”[171]

Iya. ‘Ali adalah jiwa Rasulullah Saw. Juga berasal dari keluarganya. Akan tetapi ia lebih tinggi kedudukannya dari makna kekerabatan dengan Rasulullah Saw yang kita anggap sebagai syarat khilafah: Kekerabatan merupakan syarat khilafah yang menyatukan dua hubungan; sehingga kedua hubungan ini menjadi perlu.

Al-Qur’an al-Karim menegaskan:

﴿قُلْ تَعٰالُوا نَدْعُ أَبْنٰاءَنٰا وَأَبْنٰاءَكُمْ وَنِسٰاءَنٰا وَنِسٰاءَكُمْ وَأَنْفُسَنا وَأَنْفُسَكُمْ

“…katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami, dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; “ (Qs. Ali Imran [3]: 61)

Sesuai dengan dawuh Ilahi, Rasulullah Saw harus mengajak anaknya, perempuannya, dan dirinya sendiri; kemudian melakukan mubahalah dengan orang Nasrani kaum Najran. Dan ia datang beserta Hasan, Husain, Fatimah dan ‘Ali supaya seluruh orang tahu bahwa yang dimaksud “dirinya” yang harus ia ajak adalah ‘Ali. Dimana ‘Ali adalah dirinya Rasulullah Saw.[172]

Pada hari Syura, ‘Ali As bersabda: “Demi Allah! Apakah ada orang di antara kalian yang dijadikan sebagai dirinya sendiri oleh Rasulullah Saw?” Mereka berkata: “Tidak ada. Demi Allah.”[173]

Dan demikianlah Rasulullah Saw bersabda:

علي مني وأنا منه لا يؤدي عني إلا أنا أو علي

“’Ali adalah dariku dan Aku dari ‘Ali. Tidak ada yang dapat menyampaikan pesanku kecuali aku dan ‘Ali.”[174]

Dan bersabda:

لَحْمُهُ لحَمِْي وَدَمُهُ دَمِي

“Dagingnya dan darahnya adalah dagingku dan darahku.”[175]

Dalam memberikan ancaman kepada kaum kafir, Rasulullah Saw bersabda: “Aku akan mengutus seseorang kepada mereka orang yang seperti denganku.”[176]

Dalam menjawab pertanyaan kedudukan ‘Ali As dalam hati Rasulullah Saw, ia menghadapkan wajahnya kepada para sahabat dan bersabda: “Orang ini (‘Ali As) berasal dariku dan bertanya dalam sanubariku.”[177]

Dan demikianlah perbandingan antara Hadrat Amirul Mukminin As dan Rasulullah Saw, barang siapa yang tidak mengetahui dan menganggap bahwa kekerabatan dengan Rasulullah Saw merupakan salah satu syarat khilafah, dengan kehadiran ‘Ali As giliran orang lain bakal tidak kesampaian.

44. Kezuhudan

Khalifah dan pengganti Rasulullah Saw berada pada puncak harm di tengah umat Islam. Seluruh kekayaan harta dan benda milik kaum Muslimin berada dalam kekuasaannya. Dan ia memiliki keluasaan untuk menggunakan apa pun bentuknya. Secuil saja keinginan terhadap dunia telah memadai bagi pemimpin umat Islam untuk menyimpang dari jalan keadilan menuju pada pemanfaatan kesempatan (aji mumpung, AK), penyelewengan kekuasaan, banyak tuntutan dan menghamburkan uang sebanyak-banyaknya.

Umat Islam banyak memiliki pengalaman getir dalam masalah ini. Beberapa orang menjadi khalifah Rasulullah Saw dengan berdalih sebagai pemimpin umat; akan tetapi bertingkah laku bak kaisar dan kisra kepada umat.

Oleh karena itu, salah satu sifat yang harus, niscaya dan tidak dapat dihindari oleh pemimpin umat Islam adalah zuhud dan tuna hasrat kepada dunia.

Sifat zuhud mengejewantah dalam diri Amirul Mukminin As sebagaiamana sabda Rasulullah Saw:

يا علي أن الله زينك بزينة لم يزين العباد بزينة

أحبَّ منها وهي زينة الأبرار عند الله

وهي الزهد في الدنيا فجعلك لا ترزء

من الدنيا شيئاً ولا ترزَء الدنيا منك شيئاً

Wahai ‘Ali! Allah Swt telah memberikan keindahan kepadamu yang paling indah dan tidak seorang pun diberikan keindahan yang paling dicintai selainnya dan keindahan itu adalah keindahan yang baik di sisi Allah Swt adalah zuhud di dunia.[178]

Zuhud Amirul Mukminin As baik pada masa khilafah atau selepasnya sedemikian terkenalnya sehingga seperti sebuah legenda.

Sekarang kami akan tunjukkan beberapa teladan dari zuhud Amirul Mukminin As terhadap dunia.

Amirul Mukminin ‘Ali As pada masa kekhalifaanya dan pada saat seluruh harta kaum Muslimin berada dalam kekuasaannya, ia mengenakan pakaian bertambal;[179] ia menyantap makanan kering dan sederhana, dan biaya hidup sehari-hari keluarganya didapatkan dari hasil kerja kerasnya.

Suwaidah bin Ghafalah berkata: “Aku datang menghadap Amirul Mukminin di Darul Imarah (Balai Kota). Aku melihat di hadapan Amirul Mukminin terdapat susu masam yang bau masamnya tercium dari kejauhan dan sepotong roti kering di tangannya dimana potongan-potongan kulit gandum terlihat dari permukaannya.

Ia memotong kecil-kecil roti tersebut dengan tangannya dan terkadang dengan lututnya dan mencampur roti tersebut dengan susu.

Tatkala melihatku, ia bersabda: “Mendekatlah dan makanlah makanan kami. Aku berkata: “Aku sedang berpuasa.” Ia bersabda: “Aku mendengar dari Rasulullah Saw bahwa barang siapa yang berpuasa, menghindarkan diri dari memakan yang ia senangi, maka Allah Swt akan menjamunya dengan makanan dan minuman surga.”

Suwaid berkata: “Kaniz (budak) Imam ‘Ali As berdiri di situ. Aku berkata kepadanya, mengapa engkau tidak menunaikan hak orang tua ini. Tidakkah engkau takut kepada Allah? Mengapa engkau tidak menyaring tepung roti ini dan tidak mengambil biji-biji besar dan kasar ini darinya?”

Aku berkata: “Amirul Mukminin As memerintahkan untuk tidak menyaring tepung rotinya dengan apapun. Hadrat Amirul Mukminin As mengetahui perbincangan kami. Ia bertanya: “Apa yang engkau katakan kepadanya?”

Aku mengulang kembali ucapanku kepadanya. Hadrat Amirul Mukminin dalam menjawab pertanyaanku, ia bersabda: “Ayah dan ibuku menjadi tebusannya orang yang tidak pernah menyaring tepung rotinya dan selama tiga hari berturut-turut tidak pernah kenyang dari roti gandum; hingga Tuhannya menjemputnya.”[180]

Maksud Hadrat Amirul Mukminin ‘Ali As adalah kebiasaan (sunnah) Rasulullah Saw.

Seseorang berkata: “Pada hari ‘Iedul Qurban, aku datang menghadap Amirul Mukminin As. Ia menawarkan sup kambing kepadaku. Aku berkata: Dengan segala nikmat Tuhan yang diberikan, alangkah baiknya sekiranya engkau memberikan daging bebek kepada kami. Hadrat Amirul Mukminin As bersabda: “Aku mendengar dari Rasulullah Saw bersabda: “Khalifah tidak memakan dari harta Tuhan kecuali dua mangkuk. Satu mangkuk untuknya dan keluarganya dan semangkuk lainnya untuk ia tawarkan kepada masyarakat.”[181]

Yang dapat disimpulkan dari sabda mulia ini adalah bahwa Hadrat Amirul Mukminin mendapatkan pelajaran dari Rasulullah Saw tentang metode pemerintahan dan mengurus umat. Dan Amirul Mukminin As mengikuti Rasulullah Saw dalam setiap langkahnya. Segala yang dilihat dari kehidupan Amirul Mukminin baik kehidupan personal atau kehidupan sosial, masing-masing mengandung pelajaran selama dua puluh tiga tahun bersama Rasulullah Saw.

Dalam sebuah kitab ditulis bahwa: “Beberapa orang datang kepada Amirul Mukminin membawa hadiah sejenis kue manis. Ia meletakkan tempat kue manis itu di depan dan melihatnya sekilas lalu bersabda: “ Engkau memiliki bau, warna dan rasa yang baik; akan tetapi aku tidak ingin membiasakan diriku pada sesuatu yang asing bagiku.”

Pada masa khilafahnya, orang-orang melihatnya di pasar Kufah membawa pedangnya untuk dijual. Ia bersabda: “Siapakah yang ingin membeli pedang ini?” Demi Allah! Dengan pedang ini, acapkali aku membersihkan duka Rasulullah Saw. Dan apabila aku memiliki uang setara dengan nilai satu pakaian, aku tidak akan menjual pedang ini.”[182]

Sementara pada waktu itu, ia memiliki penghasilan pertahun yang ia wakafkan mencapai empat puluh ribu Dinar, ia sendiri mengikat perutnya dengan batu untuk menahan lapar.”[183]

Orang-orang melihatnya di pasar Kufah, kurma yang ia beli untuk keluarganya ia tumpahkan ke dalam karung lalu ia pikul di pundaknya.” Orang-orang yang mencintainya segera menawarkan bantuan untuk mengantarkannya sampai depan pintu rumah Amirul Mukminin As.

Ia bersabda: “Kepala keluargalah yang lebih patut untuk membawa karung ini.”[184]

Atas alasan ini ketika orang-orang berkata tentang zuhud dan menyebut nama orang-orang zuhud di hadapan ‘Umar bin ‘Abdulaziz, ia berkata: “Orang yang paling zuhud di dunia adalah ‘Ali bin Abi Thalib As.”

Dalam menjelaskan penghasilan Amirul Mukminin As pada masa itu, disebutkan bahwa setiap Dinar ekuivalen dengan 18 gram emas. Oleh karena itu, 40.000 Dinar setara dengan 30 Mitsqal emas. Dan apabila kita asumsikan dengan harga emas hari ini, yaitu setiap Mitsqal sama dengan 160.000 Rial maka penghasilan maksimum Amirul Mukminin ketika itu ekuivalen dengan 4.800.000.000.000 Rial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar