Sabtu, 27 Desember 2008

Keutamaan Imam Ali a.s (VII)

45. Tertutupnya Semua Pintu

Masjid Nabi Saw di Madinah didirikan di sebuah tempat yang sekelilingnya terdapat rumah-rumah yang menjadi tempat lintasan dan lalu-lalang seluruh penduduk rumah yang ada di tempat itu. Beberapa lama setelah masjid di bangun pintu rumah-rumah yang ada di sekeliling masjid dibiarkan terbuka. Dan penghuni rumah itu lalu-lalang dari masjid ke rumah. Rumah Hadrat Amirul Mukminin ‘Ali As bertempat di samping masjid dan termasuk salah satu rumah yang berada di samping masjid.

Selang beberapa lama, Rasulullah Saw memerintahkan untuk menutup seluruh pintu rumah-rumah yang ada di sekeliling masjid kecuali pintu rumah ‘Ali bin Abi Thalib As.

Sekelompok orang memprotes diskriminasi ini dan mereka menyampaikan protes kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw dalam menjawab protes mereka, bersabda: “Aku memerintahkan untuk menutup seluruh pintu kecuali pintu ‘Ali akan tetapi sebagian dari kalian memprotesnya. Demi Allah! Aku tidak membuka atau menutup pintu melainkan menuruti perintah yang ditujukan kepadaku dan aku menunaikan perintah itu.[185]

Dan menurut riwayat lain, ia bersabda: “Aku tidak membuka pintu tersebut melainkan Tuhanlah yang membukanya.”[186]

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn ‘Asakir yang menukilnya dari beberapa orang sahabat Rasulullah Saw.[187]

Junaid dalam kitabnya Farâid menulis: “Kira-kira tiga puluh sahabat yang menukil hadits Saddul Abwâb (menutup pintu) ini.”[188]

46. Perhatian Khusus

Dari Abu Sa’id al-Khudri seorang sahabat besar Rasulullah Saw diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw dengan ‘Ali As memiliki hubungan seakan-akan tidak ada orang bersama mereka.[189]

Dan dari Amirul Mukminin Ali As sendiri diriwayatkan bersabda: “Kapan saja aku mengajukan soal, aku mendengar jawabannya. Dan kapan saja terdiam, ia sendiri yang akan berkata-kata.”[190]

47. Berbisik dengan Tuhan

Pada hari peperangan suku, Rasulullah Saw dan ‘Ali pergi menyepi. Mereka berkata-kata dengan berbisik. Dan tatkala ucapannya usai. Sebagian sahabat berkata: “Wahai Rasulullah! Bisikan baginda terlalu lama.” Rasulullah Saw bersabda: “Aku tidak berbisik dengannya akan tetapi Tuhanlah yang berbisik dengannya.”[191]

48. Gelar Amirul Mukminin

Buraidah Aslami salah seorang sahabat Rasulullah Saw meriwayatkan: “Kami berjumlah delapan orang dan aku paling muda di antara mereka. Rasulullah Saw bersabda kepadaku: “Berilah salam kepada ‘Ali As.” Dan katakanlah: “Salam kepadamu wahai Amirul Mukminin.”[192]

49. Penyampai Surat Taubah

Rasulullah Saw menugaskan Abu Bakar untuk menyampaikan surat al-Barâ’ah (Taubah) kepada orang-orang haji di Makkah. Tidak lama selepas itu, ia mengutus ‘Ali supaya mengambil surat al-Barâ’ah itu dari Abu Bakar dan menyampaikannya kepada orang-orang haji di Makkah. Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada yang dapat menyampaikan surat ini kecuali orang dari keluargaku.”[193] Dalam riwayat lain disebutkan: “Tidak ada yang menyampaikan pesanku kecuali aku sendiri atau ‘Ali.”[194]

50. Pembawa Panji Rasulullah Saw

Sepanjang peperangan tradisional masih digunakan dan alat-alat perang modern belum lagi digunakan di medan perang, bendera utama yang disebut sebagai panji (liwâ) termasuk barometer untuk menunjukkan keadaan lasykar. Berkibarnya panji perlambang konsistensi perjuangan dan gugurnya panji tersebut adalah alamat kejatuhan lasykar.

Berangkat dari sini, orang yang memikul tugas membawa panji dan membiarkannya tetap berkibar adalah orang yang paling mulia, paling berani dan paling gigih di medan perang.

Pada seluruh peperangan Rasulullah Saw melawan kaum kuffar, orang yang membawa panji prajurit Islam adalah ‘Ali bin Abi Thalib.[195]

Menurut beberapa riwayat, tatkala Rasulullah Saw ditanya: “Siapakah yang akan membawa panjimu pada hari kiamat wahai Rasulullah!”

Rasulullah Saw bersabda: “Yang akan membawa panjiku pada hari kiamat adalah orang yang membawanya di dunia, ‘Ali bin Abi Thalib.[196]

51. Pernikahan dengan Fatimah As

Jawaban positif Rasulullah Saw atas pinangan ‘Ali bin Abi Thalib terhadap Fatimah az-Zahra As harus dianggap sebagai sikap khusus Rasulullah Saw terhadap ‘Ali.

Padahal banyak sahabat-sahabat besar Rasulullah Saw mengajukan lamaran kepadanya untuk meminang Fatimah az-Zahra As. Dan Rasulullah Saw menolak lamaran mereka; akan tetapi tatkala ‘Ali As mengajukan lamaran, tanpa pikir panjang, ia langsung menerima lamaran tersebut.”[197]

Dan menurut riwayat yang lain,[198] tanpa pinangan ‘Ali, Rasulullah Saw memanggil para sahabat dan membacakan khutbah nikah di hadapan sekelompok sahabat yang bermaksud mengajukan lamaran, Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt mewahyukan kepadaku untuk menikahkan Fatimah As kepada ‘Ali As.[199]

Tentu redaksi Selangit Keutamaan Baginda ‘Ali ini bukan hiperbola atas ekspresi kecintaan kepada Baginda Ali. Namun sebuah realitas atas keunggulan, kecakapan dan keutamaan Amirul Mukminin As melalui lisan Rasulullah Saw yang dinukil oleh para ulama hadis dan sejarawan Islam. Tentu masih banyak keutamaan Baginda ‘Ali As yang tidak disebutkan di atas. Tapi dengan pelbagai keutamaan ini, penulis pandang memadai untuk mengekspresikan kecintaan kepada sosok yang dilantik oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai pemimpin kaum Muslimin. Sebagaimana pepatah Persia yang berkata, “Agar dar khane kasi hast…yek harf bast ast…. (sekiranya ada orang memahami, satu ucapan memadai).

Kalau Anda ingin mengekspresikan kecintaan kepada pemimpin kaum Muslimin lainnnya, seperti tiga khalifah pendahulunya, silahkan Anda melakukan hal yang sama dengan menyuguhkan dalil-dalil dan sanad-sanadnya, tidak mesti dari sumber-sumber Syiah, cukup dari sumber-sumber Ahlisunnah sendiri, sebagaimana yang penulis lakukan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang berpegang teguh pada wilayah dan imamah Amirul Mukminin As dan para Imam Maksum As. Semoga… [ www.telagahikmah.org/ina ]


[1]. Qs. Taubah (9):40

[2]. Shahih Bukhari, jil. 6, hal. 42

[3] . Târikh Dimasyq, jilid 3, hal. 311 hingga 317, hadits ke-1350 hingga 1357.

[4] . Idem, jilid 3, hal. 127, hadits 1149 dan As-Ash-Shawâiq al Muhriqah, hal. 186.

[5] . Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 107, Ash-Shawâiq al Muhriqah, hal. 186, bagian kedua, Farâidul Simthaîn, jilid 1, hal. 379, bab 69, hadits 309, Târikh Dimasyq, jilid 3, hal. 83, hadits ke-1117.

[6] . Farâidul Simthain, jilid 1, hal. 364, bab 66, hadits ke-292.

[7] . Manâqib ibn Maghâzali, hal. 145, hadits ke-188.

[8] . Ash-Sawâiq al-Muhriqah, hal. 196 dan Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 430, hadits ke-940.

[9] . Idem, dan Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 431, hadits ke-941.

[10] . Idem, dan Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 108, hadits ke-36353, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 429, hadits ke-938.

[11] . Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 155.

[12] . Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 187, hadits 2, Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 145, hadits 36457, dan Dzakhairul Uqba, hal. 62.

[13] . Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 143, hadits ke-36447.

[14] . Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 324, bab 58, hadits ke-252, dan Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 159, hadits 646.

[15]. Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 155, Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 111.

[16]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 162, hadits ke-648.

[17]. Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 130, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 188, hadits ke-5.

[18]. Idem, jilid 3, hal. 132, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 187, hadits ke-2, Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 123, hadits ke-36393, dan hal. 162, hadits ke-36493.

[19]. Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 11, Sunan at-Tirmidzi, jilid 5, hal. 595, Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 166, dan hal. 167, hadits ke-36508, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 209, bab. 42, hadits ke-165 hingga 167, Manâqib ibn Maghazali, hal. 165 hingga 175, hadits ke- 189 hingga 212.

[20]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 109, hadits ke-36358.

[21]. Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 128.

[22]. Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 130, As-Shawaiq al-Muhriqah, hal. 197, hadits ke-17, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 96, hadits ke-233.

[23]. Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 110.

[24]. Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 128.

[25]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 145, hadits ke-36458.

[26]. Târikh Baghdâd, jilid 3, hal. 161.

[27]. Idem,, jilid 4, hal. 195, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 103, hadits ke-610.

[28]. Idem, jilid 4, hal. 410, As-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 193, hadits ke-32, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 243, hadits ke-290.

[29]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, ha. 332, bab 61, hadits ke-257, dan Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 148, hadits ke-182.

[30]. Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 145, hadits ke-179.

[31]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 122, hadits ke-36392, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 134, bab 22, hadits ke-96.

[32]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 210, hadits ke-712.

[33]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 159, hadits ke-36491.

[34]. Sunan at-Tirmidzi, jilid 5, hal. 601.

[35]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 120, hadits ke-36385 dan hal 117, hadits ke-36529, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 130, bab 22, hadits ke-92, 93, 95, As-Shawaiq al-Muhriqah, hal. 188, hadits ke-8.

[36]. Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 129, Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 110, As-Shawaiq al-Muhriqah, hal. 188, hadits ke-8, Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 106, hadits ke-36347.

[37]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 142, hadits ke-36445, As-Shawaiq al-Muhriqah, hal. 190, hadits ke-16, Faraidh as-Simthain, jilid 1, hal. 298, bab 55, hadits ke-226, Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 420, hadits ke-494 hingga 502.

[38]. Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 452, hadits ke-501.

[39]. Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 121, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 302, bab. 56, hadits ke-241, As-Sawâiq al-Muhriqah, hal. 190, hadits ke-16.

[40]. Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 123, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 299, bab. 55, hadits ke-8 dan 237, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 267, hadits ke-796, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 240, hadits ke-287 dan 288, Manâqib Khawarazmi, hal. 105, hadits ke-109.

[41]. Manâqib ibn Maghâzali, hal. 65, hadits ke-90, hal. 50, hadits ke-73, Dzakhair al-Uqba, hal. 25.

[42]. Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 121, Târikh Baghdâd, jilid 14, hal. 21.

[43]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 177, bab 36, hadits ke-139.

[44]. Idem, hadits ke- 140, Târikh Dimasyq, jilid 3, hal. 153, hadits ke-1172.

[45]. Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hal. 124, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 191, hadits ke-21, Faidh al-Qadir, 3564.

[46]. Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 31.

[47]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 406, hadits ke-912, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 107, hadits ke-149.

[48]. Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 193, hadits ke-34.

[49]. Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 152, hadits ke-36477, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 70, hadits ke-101.

[50]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 39, bab 1, hadits ke-3 dan hal. 140, bab 24, hadits ke- 102, Târikh Dimasyq, jilid 3, hal. 157, hadits ke-1174.

[51]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 489, hadits ke-1019.

[52]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 325, bab 59, hadits ke-5 dan 234, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 224, hadits ke-762, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 195, hadits ke-40.

[53]. Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 152, hadits ke-36475.

[54]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 2423, hadits ke-761 hingga 763, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 289, bab 54, hadits ke-228.

[55]. Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 195, hadits ke-40.

[56]. Manâqib ibn Maghâzali, hal. 242, hadits ke-289, Dzakhair al-Uqba, hal. 71.

[57]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 156, bab 31, hadits ke-118, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 344, hadits ke-853, 856, 858.

[58]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 345, hadits ke-853.

[59]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 347, hadits ke-854.

[60]. Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 156, hadits ke-36483.

[61]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 408, hadits ke-914, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 206 dan 243.

[62]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 391, hadits ke-894 hingga 911, Ash-Shawaiq al-Muhriqah, hal. 190, hadits ke-15, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 206, hadits ke-244 hingga 245.

[63]. Idem, hal. 457, hadits ke-989, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 86, hadits ke-127.

[64] . Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 295, bab 55, hadits ke-233, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 193, hadits ke-36, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 140, hadits ke-184.

[65]. Idem, hadits ke-234, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 271, hadits ke-797 hingga 799, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 47, hadits ke-70

[66]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 266, hadits ke-793 hingga 795

[67]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 311, hadits ke-722.

[68]. Manâqib ibn Maghâzali, hal. 73, hadits ke-108.

[69]. Manâqib ibn Maghâzali, hal. 92, hadits ke-135 & 136, Faidh al-Qadir, jilid 4, hal. 357, Ar-Riyadh an-Nadhirah, jilid 2, hal. 105

[70]. Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 164.

[71]. Sunan ibn Majah, jilid 1, hal. 44, bab 11, hadits ke-120, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 247, bab. 47, hadits ke-192 .

[72]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 261, hadits ke-787, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 188, jilid 4.

[73]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 141, bab 25, hadits ke-104

[74]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 143, bab 25, hadits ke-104.

[75].Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 260, hadits ke- 785, Kanz al-’Ummâl, jilid 119, hadits ke- 2 dan 36381, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 193, hadits ke-37.

[76]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 259, hadits ke-783.

[77]. Idem, hal. 260, hadits ke-786.

[78]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 154, bab 31, hadits ke-116.

[79].Idem, hal. 156, bab 31, hadits ke-118, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 442, hadits ke-958

[80].Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 243, hadits ke-800 hingga 804, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 45, hadits ke-67

[81].Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 130, hadits ke-155; hadits yang serupa juga terdapat pada hadits ke-157 dan 158.

[82]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 311, bab 57, hadits ke-249 dan hal. 315, bab 58, hadits ke-250.

[83]. Mizânul ‘Itidâl, jilid 1, hal. 235, Târikh Baghdad, jilid 6, hal. 85, Hilyatul ‘Awliyâ, jilid 1, hal. 84, Farâidh as-Al-Simthain , jilid 1, hal. 40, bab 1, hadits ke- 5 dan 17, Târikh Damsyq, jilid 1, hal. 139, hadits 173 dan 176.

[84] . Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 2, hal. 241 dan jilid 3, hal. 160, As-Ash-Shawâiq al Muhriqah, hal. 190, jilid 12, Farâidul Al-Simthain, jilid 1, hal. 52, bab 5, hadits 17, Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 139, hadits ke-173 dan 176.

[85] . Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 2, hal. 241, Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 42, Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 108, hadits 36355.

[86] . Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 2, hal. 120, Tafsir al-Kasysyâf, jilid 3, hal. 360, As-Ash-Shawâiq al Muhriqah, hal. 194, hadits 40.

[87] . Majma’ az-Zawâid, jilid 9, hal. 111.

[88] . Ar-Riyadha an-Nadharah, jilid 2, hal. 108.

[89] . Faidh al-Qadir, jilid 4, hal. 365.

[90] . Manâqib ibn Maghâzali, hal. 92, hadits ke-135 dan 136, Ar-Riyadha an-Nadharah, jilid 2, hal. 105, Faidh al-Qadir, jilid 4, hal. 357.

[91] . Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 576, Manâqib Khawârazmi, hal. 51, hadits ke-13.

[92] . Al-Kâmil fii at-Târikh, jilid 2, hal. 57 dan Târikh at-Tabarî, jilid 2, hal. 52.

[93] . Nahj al-Balâgha, terjemahan Dr. Sayid Ja’far Syahidi, hal. 229, penggalan khutbah 192 yang dikenal sebagai khutbah qâshi’a.

[94] . Itsbât al-Wasiyah, hal. 140.

[95] . Bihâr al-Anwâr, jilid 40, hal. 153, hadits 54, bab 93. Almarhum Muqarram dalam kitab as-Sayyidatu Sukainah, hal. 35 memberi catatan di bawah hadits ini: “Alusi menulis ucapan ini dalam tafsir Ruhul Ma’âni, jilid 3, hal. 27 di bawah ayat “Kaifa tuhyi al-maut. Dan Abu as-Suud dalam kitab tafsirnya yang memberikan ulasan atas kitab tafsir ar-Razi, jilid 4, hal. 570 di bawah ayat: “wa idzâ tuliyat ‘alaihim ayatun zadathum imânan.” dalam surah al-Anfal yang menukilnya dari Amirul Mukminin As.

[96] . Târikh Dimasyq, jilid 4, hal. 364, hadits ke- 872 dan 871, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 279, hadits 330.

[97]. Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 93, Sawâ’iq al-Muhriqah, hal. 185, bagian pertama, Faraidh al-Simthain, jilid 1, hal. 243, bab. 47, hadits ke-188, Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 48, hadits ke-70.

[98]. Sunan at-Tirmidzi, jilid 5, hal. 598, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 246, bab 47, hadits ke-189, Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 93, Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 128, hadits ke-34407.

[99]. Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 114, 129, dan 133, Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 97, hadits ke-133 hingga 137 dan Târikh Kâmil, jilid 2, hal. 63.

[100]. Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 92, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 43, hadits ke-62.

[101]. Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 111, hadits ke-36363.

[102]. As-Sawâ’iq al-Muhriqah, hal. 185, bagian pertama. Demikian juga ‘Allamah Amini menukil dari Hakim Naisyaburi dan Ibn Abdulbar tentang ijma ini.

[103]. Al-Ghadir, jilid 3, hal. 219 dan 236.

[104]. Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 72, hadits ke- 115 hingga 117. Hadits ini juga dinukil dari Salman Parsi dalam kitab Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 144, hadits ke- 36452.

[105]. Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 93 dan Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 124.

[106]. Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 94, Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 112, Faraidh al-Simthain, jilid 1, hal. 242, bab 47, hadits 187, Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 71, hadits ke- 94 hingga 100.

[107]. Itsbât al-Washiyyah, hal. 141.

[108] . Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 92, Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 136, Musnad Imâm Ahmad Hanbal, jilid 4, hal. 368 dan 371, Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 144, Sunan at-Tirmidzi, jilid 5, hal. 600, Al-Ashabah, jilid 8, hal. 183.

[109] . Usud al-Ghabah, jilid 4, hal., Al-Ahbabihi, jilid 7, hal. 167.

[110] . Sunan at-Tirmidzi, jilid 5, hal. 600, Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 131, Musnad Imâm Ahmad Hanbal, jilid 1, hal. 99 dan 371, Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 93, Faraidh al-Simthain, jilid 1, hal. 245, bab 47, hadits ke- 190.

[111] . Musnad Imâm Ahmad Hanbal, jilid 5, hal. 26.

[112] . Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 144, hadits ke-36392 dan hal. 124, hadits ke-36395.

[113]. Târikh Baghdâdi, jilid 4, hal. 233.

[114]. Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 124, hadits ke-36396.

[115]. Nahj al-Balâgha, terjemahan Dr. Sayid Ja’far Syahidi, hal. 229, penggalan khutbah 192, dikenal sebagai khutbah qâshi’a.

[116]. Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 122, hadits ke-36390 dan hal. 126, hadits ke-364000, Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 93, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 247, bab 47, hadits ke-191.

[117]. Selama masa ini yaitu masa setelah bi’tsat, ia senantiasa bersama Rasulullah Saw dan di samping itu, sebelum bi’tsat ia besar dan ditarbiyah dalam haribaan Rasulullah Saw.

[118]. Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 128, hadits ke-36405 dan 36406 dan hal. 120, hadits ke- 36387, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 189, hadits ke- 11.

[119]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 200, bab. 40, hadits ke-156, Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 135, hadits ke-36426.

[120]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 96, bab. 18, hadits ke-66.

[121]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 150, bab. 29, hadits ke-113.

[122]. Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 189, hadits ke- 9.

[123]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 332, bab. 61, hadits ke-257, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 482, hadits ke-1010.

[124]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 200, bab. 40, hadits ke-156, Kanz al-’Ummâl, jilid 13, hal. 177, hadits ke-36525.

[125]. Hilyatul Awliyâ,jilid 1, hal. 56.

[126]. Musnad Imâm Ahmad Hanbal, jilid 5, hal. 26, Usud al-Ghabah, jilid 5, hal. 520.

[127]. Sunan at-Tirmidzi, jilid 5, hal. 598, Hilyat al-Awliyâ,jilid 1, hal. 56, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 99, bab. 19, hadits ke-68. Ash-Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 189, hadits ke- 9.

[128]. Târikh Baghdâdi, jilid 11, hal. 204.

[129]. Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 126, Ash-Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 189, hadits ke- 9, Târikh Baghdâdi, jilid 4, ha. 348, Usud al-Ghabah, jilid 4, hal. 100, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 98, bab. 18, hadits ke-67.

[130] . Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 101, bab. 19, hadits ke-70, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 483, hadits 1012.

[131]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 165.

[132]. Hilyat al-Awliyâ, jilid 1, hal. 67, Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 128, hadits ke-35404, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 201, bab. 20, hadits ke-157, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 197, bagian 4.

[133]. Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 135, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 195, bagian 3.

[134]. Hilyat al-Awliyâ, jilid 1, hal. 65, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 195, bagian 3.

[135]. Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 135, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 195, bagian 3.

[136]. Târikh Dimasyq, jilid 3, hal. 44, hadits ke- 1071 hingga 1078.

[137]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 367, bab. 68, hadits ke-297, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 196, bagian 3, Târikh Dimasyq, jilid 3, hal. 61, hadits ke-1078 hingga 1090.

[138]. Musnad Imâm Ahmad bin Hanbal, jilid 1, hal. 199, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 234, bab. 46, hadits ke-182.

[139] . Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 369, bab. 68, hadits ke-298.

[140] . Idem, jilid 1, hal. 94, bab. 18, hadits ke-63.

[141] . Manâqib Ibn Maghâzhali, hal. 71, hadits ke-102.

[142]. Musnad Imâm Ahmad bin Hanbal, jilid 1, hal. 348, Al-Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 4.

[143]. Tafsir Qurthubi, jilid 3, hal. 21, Tafsir Kabir, jilid 3, hal. 223, Tafsir Furât, hal. 65, Usud al-Ghaba, jilid 4, hal. 99.

[144]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 330, bab. 60, hadits ke-265, Manâqib Khawarazmi, hal. 127, hadits ke-141.

[145] . Hilyat al-Awliyâ, jilid 9, hal. 145.

[146]. Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 186, bagian pertama.

[147]. Usud al-Ghaba, jilid 4, hal. 97.

[148]. Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 167, jilid 213 & 214, Târikh Thabari, jilid 2, hal. 197.

[149]. Al-Mustadrak ‘ala Shahihaîn, jilid 3, hal. 4, hal. 120 dan Maqtal Khawarizmi, jilid 1, hal. 45.

[150].Ad-Durr al-Mantsur, jilid 5, hal. 192, satr 35.

[151]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 162, hadits ke-36496 hingga 36406, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 261, ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 187, hadits ke-2, bab. 50, hadits ke-201, Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 174 hingga 246, hadits ke-217 hingga 290, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 176 hingga 189, hadits ke- 213 hingga 224.

[152]. Târikh Baghdâd, jilid 11, hal. 324, Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 136, hadits ke- 36431, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 186.

[153]. Musnad Imâm Ahmad bin Hanbal, jilid 6, hal. 8, dan ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 186.

[154]. Al-Bidâyah wa an-Nihâyah,jilid 4, hal. 325.

[155]. Manâqib ibn Maghâzali, hal. 202, hadits ke-240.

[156]. Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 185, bagian pertama.

[157]. Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 363, bab 66, hadits ke-289.

[158]. Târikh Baghdâd, jilid 11, hal. 173, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 235, bab 46, hadits ke-183 hingga 185.

[159]. Al-Imâm wa as-Siyâsah, hal. 6 dan 11.

[160]. Târikh Thabari, jilid 2, hal. 58, 67 dan 68.

[161]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 114, hadits ke-36370, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 88, bab 17, hadits ke-68.

[162]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 114, hadits ke-36370, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 88, bab 17, hadits ke-68..

[163]. As-Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 192, hadits ke-36.

[164]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 105, hadits ke-36345 dan 120, hadits ke-36348, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 111 hingga 120, hadits ke-79 hingga 83.

[165]. As-Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 192, hadits ke-36, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 150, bab 29, hadits ke- 113, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 37, hadits ke-57 dan 38 hadits ke-39..

[166]. Musnad Imâm Ahmad bin Hanbal, jilid 1, hal. 230, dan Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 150, hadits ke-36467..

[167]. Manâqib ibn Maghâzali, hal. 307, hadits ke-352 dan Dzakhair al-Uqbâ, hal. 25.

[168]. Târikh Dimasyq, jilid 3, hal. 116, hadits ke-1140.

[169]. As-Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 194, hadits ke-40 dan Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 163, hadits ke-36496 dan hal. 115, hadits ke-36374.

[170]. As-Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 187, hadits ke-3.

[171]. Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 376, hadits ke-878 hingga 880.

[172]. Tafsir al-Kasysyâf, jilid 1, hal. 368.

[173]. Târikh Dimasyq, jilid 3, hal. 116, hadits ke-1140.

[174]. As-Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hal. 188, hadits ke-6, Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 58 dan 258, bab. 50, hadits ke-198, Sunan ibn Majah, jilid 1, hal. 44, bab. 11, hadits ke-119, Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 378, hadits ke-883 hingga 893, Manâqib ibn Maghâzali, hal. 226, hadits ke-272 hingga 274.

[175]. Majma’ az-Zawâid, jilid 9, hal. 111.

[176]. Al-Al-Mustadrak ‘ala Shahihain, jilid 2, hal. 120 dan Tafsir Kasysyâf, jilid 3, hal. 360.

[177]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 143, bab 22, hadits ke-36552.

[178].Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 136, bab. 22, hadits ke-100 dan Manâqib ibn Maghâzali, hal. 105, hadits ke-147

[179]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 185, hadits ke-36552.

[180]. Manâqib Khawârizmi, hal. 118, hadits ke-130 dan Farâidh as-Simthain, jilid 1, hal. 352, bab 66, hadits ke-277.

[181]. Musnad Imâm Ahmad bin Hanbal, jilid 1, hal. 78.

[182]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 184, hadits ke-36552 ,Manâqib Khawârizmi, hal. 121, hadits ke-135.

[183].Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 450, hadits ke-975 dan 976.

[184]. Kanz al-‘Ummâl, jilid 13, hal. 180, hadits ke-36573.

[185] . Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 281, hadits ke-325.

[186] . Idem, hadits ke-326

[187] . Idem, jilid 1, hal. 281 hingga 296, hadits ke-323 hingga 335.

[188] . Farâid as-Simthain, jilid 1, hal. 208.

[189] . Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 453, hadits ke-982.

[190] . Idem, hal. 454, hadits ke-984 hingga 987.

[191] . Idem, jilid 2, hal. 307, hadits ke-816 hingga 821.

[192] . Târikh Dimasyq, jilid 2, hal. 260, hadits ke-784.

[193] . Idem, hal. 376, hadits ke- 878 hingga 885.

[194] . Idem, hal. 379, hadits ke- 885, dan Farâid al-Simthain, jilid 1, hal. 58 dan 61.

[195] . Târikh Dimasyq, jilid 1, hal. 163, hadits ke-206 hingga 208.

[196] . Idem, jilid 2, hal. 379, hadits ke- 885 dan Farâid al-Simthain, jilid 1, hal. 58 dan 61.

[197] . Farâid al-Simthain, jilid 1, hal. 88, hadits ke- 68.

[198] . Idem, hal. 90, hadits ke- 59.

[199] . Idem.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar